Postingan

Ruangan yang Berjendela Abu

Ruangan itu sesak. Empat dinding saling berhadapan tanpa sepatah obrolan terucap. Kau hisap rokok itu dalam-dalam, lalu kau hembuskan asap berkepul-kepul jumlahnya. Tanganmu gemetar. Wajahmu merah. Matamu dipenuhi lautan air racun jingga. Jendela ruangan itu sekarang berwarna abu. Ventilasi tidak mau bernapas. Mulutmu bingung antara menghisap rokok atau membantu mata mengeluarkan perasaannya. Kepulan asap bagaikan segerombolan orang yang memasuki ruangan ini.  Apakah kau menangis sebab matamu perih perihal asap? Tidak. Kau gemetar, jari jemarimu bergerak dari dahi ke mulut secara berulang. Apakah ada sesuatu di kepalamu yang membuatmu terus meraba dahimu secara kasar? Kakimu juga tidak mau diam membelah lautan asap yang mulai menjadi abu pekat. Kau hisap rokok itu dalam-dalam, lalu kau hembuskan dua kali lipat lebih lama. Napasmu seperti mengeluarkan kata-kata yang tak bisa terucap.  Kata-kata apa ini? Kenapa kau takut untuk memberi suara pada kata-kata ini?  Dinding-ding...

Persetan Kamu

      Ini sangat amat membunuhku. Fakta bahwa aku sedang menyukai seseorang namun aku tidak bisa melakukan apapun dengan rasa suka ini. Aku tidak bisa mendekatinya, aku tidak bisa memilikinya, aku tidak bisa dekat dengannya. Dan satu topik utama untuk dirinya adalah aku takut dia merasa risih dengan diriku. Aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan perasaan ini. Kalaupun kami memiliki hubungan yang resmi, pada akhirnya kami akan berakhir dengan perpisahan. Perpisahan yang sebenarnya kami berdua sudah tahu akan terjadi dalam hitungan menit. Kami berdua sudah tahu bahwa akhir dari hubungan ini adalah perpisahan mutlak yang terjadi karena *****.     Tapi itulah masalahnya. Aku tahu semua pendekatan untuk memilikimu adalah sia-sia. Dan salah satu hal yang paling kubenci di dunia ini adalah orang-orang yang membuang waktuku. Mendekati dan mencintaimu adalah salah satu hal yang membuang waktuku. Tapi sekali lagi, itulah masalahnya. Aku ingin selalu mendekatimu. Sat...

Percakapan Imajiner

       Aneh rasanya ketika menangkap diriku enggan untuk pergi ke Bioskop seorang diri. Biasanya aku selalu senang ketika diberi kesempatan untuk berpergian jauh sendiri. Aku sudah terbiasa melakukan apapun hanya dengan diri sendiri. Orang lain adalah orang lain, aku hanya bersama pikiranku yang berdialog pada setiap pergerakkanku. Setiap langkah tercipta obrolan imajiner dengan entah siapa, aku seperti menciptakan sosok manusia lain khusus untuk mengajakku berbicara di dalam kepalaku.     Tapi kali ini.. kali ini aku tidak mau melakukan itu. Sudah jarang sekali manusia buatanku ini menampakkan dirinya di dalam pikiran-ku. Percakapan-percakapan imajinerku ini sekarang sudah memiliki nama dan rupa. Nama dan rupa yang nyata berjalan di atas permukaan bumi ini. Aku membayangkan percakapan kami berlatar belakang di penjual kaki lima yang memberi tempat untuk makan di pinggir jalan. Kendaraan-kendaraan menjadi musik latar belakang pembicaraan kami. Lebih baik la...

Seharusnya Tanpa Ada Yang Salah Dengan Itu

Saya sadar, bahwa jika saya mengatakan "Saya Mencintaimu" adalah sebuah kesalahan besar, dan juga gerbang dari segala petaka. Tapi ketahuilah, bahwa ini hanya sebuah perasaan,  yang seharusnya tidak menyakitimu, tidak juga saya. Percayalah, bahwa saya hanya ingin dicintai.  Saya adalah manusia yang diizinkan Tuhan untuk hidup tanpa alasan yang jelas, dan saya hanya ingin mencintaimu. Seharusnya tanpa ada yang salah dengan itu.  Namun, mencintaimu telah membuatku merasa seperti seorang kriminal yang sewaktu-waktu akan ditangkap.  Ketahuilah, kejahatan yang saya lakukan hanya mencintaimu.  Saya berhasil membuktikan bahwa saya juga punya hati. Saya memiliki perasaan. Yang seharusnya tanpa ada yang salah dengan itu. Namun, Saya mencintaimu. Jakarta, 30 Agustus 2026.

Jingga Keemasan

     Aku bangun dari tidurku, sekelilingku gelap.       Dinding-dinding yang dingin.     Suara tetesan air yang bergema.     Lalu kembali tidur, dan bangun dengan kondisi yang sama.     Purnama terus silih berganti.     Aku kenal dengan semua kelelawar tak bernama.     Mataku sudah berdamai dengan gelapnya gelap.     Tubuhku semakin akrab dengan dingin.     Namun, ruang berbatu ini memperkenalkan elemen baru.     Sesuatu tembus pandang yang berwarna jingga keemasan.     Menyingkap kain-kain gelap ruang berbatu ini.     Kulitku seperti meleleh.     Aku pertama kali melihat embun yang memancarkan pelangi.     Kelelawar tertidur dengan sangat nyenyak, sunyi.     Sesuatu apa ini?.     Aku tak ingin ini pergi.     Elemen baru ini, yang memperlihatkanku pada warna hijau diantara batu-batu dingin.     ...

Mengatasi Rasa Cemas

      Sejujurnya aku ingin sekali bercerita tentang kekhawatiranku akhir-akhir ini, tapi aku takut jika menceritakannya terus menerus justru membuat tidurku tidak nyenyak dan gelisah, seperti yang sudah-sudah.. Oh ya tuhan.. kalian tidak akan tahu seberapa mengerikannya malam itu, malam ketika aku mencapai puncak overthingking-ku. Bahkan untuk menceritakannya kembali dan mengingatnya lagi rasanya mengerikan. Jadi sekarang, demi kesehatan mental dan pikiranku, aku lebih memilih untuk menceritakan keseharianku pada liburan semester ini, yang di mana aku tidak liburan sama sekali, dan aku hanya akan menceritakan hal-hal yang ternyata membuatku tenang.     ***     Selama dua hari yang lalu aku tidur di kamar Eyang. Aku memutuskan untuk tidur di kamar Eyang karena kegelisahan yang kualami pada hari-hari yang lalu. Rasanya, kamar Eyang adalah tempat yang cocok untuk aku mencari suasana yang baru. Eyang tidur di sisi sebelah kanan kasur, sisi di mana Eyang pa...

Tanda Tanya Telah Terjawab

      Empat minggu telah terlewati semenjak aku mendengar bahwa kabarmu sedang dekat dengan seorang perempuan. Jujur ketika aku mendengar kabar tersebut, aku tidak cemburu dengan siapapun itu yang sedang kau dekati. Perasaanku saat itu yaitu perasaan lega, seolah-olah tali tambang diikatkan dengan kencang di dadaku sedang melepaskan dirinya perlahan-lahan. Akhirnya, itu berarti mulai saat itu aku tak perlu berpikir berlebihan, yang dapat mengganggu jadwal tidurku, memikirkan apakah hal-hal kecil yang kamu lakukan apakah tindakan untuk dekat denganku atau hanya  hak asasi manusia dasar.     Aku tak perlu memikirkan; apakah kamu sedang mendekatiku ketika kita saling mengunci bola mata di tengah kerumunan. A pakah kamu sedang mendekatiku ketika kamu bercanda memegang tanganku padahal sebenarnya kamu ingin memegang tangan temanmu yang berdiri di sebelahku. Apakah kamu sedang mendekatiku ketika kamu terlihat sangat antusias sekali bercerita tentang kehidupanmu k...

Aku Hanya Berada Di Situ

      Obrolan malam hari bersama teman, di mana salah satu dari kami akan mengungkapkan sebuah pendapat atau fakta mengenai satu sama lain yang sebelumnya belum pernah kami dengar, adalah tipe obrolan yang menurutku sangat berkesan. Biasanya, obrolan seperti ini akan membekas di pikiranku untuk, entah berapa windu lamanya. Ada banyak obrolan seperti ini yang berkesan bagiku, yang membekas hingga sekarang dan nanti. Salah satunya adalah yang terjadi sekitar satu bulan yang lalu, saat aku menginap di rumah temanku.     Malam sudah larut. Hampir semua makhluk sudah mematikan mata lampunya. Hanya aku dan dua temanku melawan ketenangan malam itu. Aku duduk di lantai, dengan iPad dan pensil ajaibnya menggambar sebuah potret wanita, yang sudah menjadi kebiasaanku ketika disuguhkan dengan media dan bahannya. Dua temanku berbaring dan duduk di kasur. Semakin larut, semakin menyelam ke lubuk pribadi. Bercerita ini dan itu. Tak sadar, topik sudah berpindah ke masalah perci...

Bercerita Ini Dan Itu

      Tujuanku mempunyai akun blog, selain karena permintaan mendiang Kakekku, yaitu karena aku butuh tempat untuk bercerita. Aku ingin menyampaikan pikiran-pikiranku yang dapat aku sampaikan dalam berbagai bentuk tulisan; seperti cerpen fiksi, puisi, atau bahkan aku bercerita secara langsung seperti ini. Dan ketika aku membaca ulang tulisan-tulisan ini, aku merasa senang karena aku melihat diriku hidup seperti karakter-karakter yang aku baca di buku-buku fiksiku. Tapi entah kenapa, terdapat suatu waktu di mana aku membutuhkan audiens untuk membaca blogku.       Aku benci sekali ketika menangkap basah diriku sedang mencari validasi orang lain dengan cara menceritakan hal-hal personal tentang diriku, walaupun ceritanya hanya satu paragraf. Aku merasa bahwa aku egois karena seolah-olah yang kupedulikan hanyalah diriku sendiri, lalu aku pulang ke rumah dengan suasana hati yang resah karena menyesal tidak menyampaikan apa yang sebenarnya aku rasakan. Padah...

Rasa Takut Seorang Pecundang

    Satu bulan lebih sudah terlewatkan semenjak ulang tahunku yang ke 17 tahun, dan pada siang hari tadi aku menerima Kartu Tanda Pendudukku untuk pertama kali, dan melihat wajahku yang selalu terlihat jelek di mataku. Aku tidak pernah dan akan selalu menolak pikiranku ketika otakku ini mulai menawarkan untuk menjadikan topik "Kau Sudah Dewasa, dan semuanya sudah telat" pada malam hari. Karena jika aku memikirkannya, sudah pasti tidurku tak tenang, dan bisa berujung pada kondisiku di pagi hari dengan mata yang bengkak.     Ada banyak sekali yang berada di pikiranku sekarang, tapi aku tidak mau menyebutkannya satu per satu. Karena jika aku lakukan, aku akan menyadari betapa beratnya masa-masa yang akan ku lalui. Tapi pada intinya, hal-hal yang mendominasi pikiranku saat ini adalah tanggung jawab-tanggung jawab yang akan datang ke hidupku dan sudah pasti akan membebaniku. Maksudku, memikirkannya saja sudah membuatku panik, resah, dan gelisah. Bagaimana nanti ketika har...

Keberadaanku Nanti

    Hari ini aku diminta untuk pergi berkumpul untuk persiapan suatu acara, yang di mana aku adalah salah satu panitianya. Sejujurnya, aku sangat malas menyisihkan waktuku untuk berkumpul dengan 'atasan-atasan' yang tak ku gemari. Namun, ya sudahlah kalau dipikir kembali. Mungkin aku bisa izin untuk pulang lebih awal dari pada yang lain. Pulang ke rumah dan melanjutkan aktivitasku yang kulakukan hanya seorang diri itu, di atas meja kayu cokelat, dengan buku sketsa, dan novel yang baru saja kubeli.      Dalam perjalanan menuju tempat itu, aku membangun niat untuk bergaul sembari mendengar musik yang cukup membantuku untuk mencerahkan sedikit suasana hatiku. Karena sekedar informasi saja, sudah hampir dua minggu lebih, aku hanya bergaul dengan keluargaku saja, tentunya karena sedang libur Eidul Fitri. Dan aku sangat bersyukur, setelah menjalani hari-hari yang mengiritasi ketenangan dan merontokkan pahalaku di bulan puasa bersama cecunguk yang ada di sekolah. ...

Aku Dan Suamiku.

      Dan di situlah, tubuh dinginmu yang pucat terbaring dengan tenang. Aku tak pernah melihatmu tidur setenang ini di sebelahku. Kau terlihat lebih tampan di atas peti mati sekarang, dari pada di atas pelaminan kita dahulu. Dahulu kau adalah pemuda terakhir yang akhirnya kutemukan dengan keadaan mapan dan tidak di bawah alam sadar, seperti kaummu yang lain. Tapi itulah hal yang menyedihkan, bahwa kau adalah spesies yang terakhir, dan kau masih bukan yang terbaik.     Bukannya aku ingin menjadi wanita bajingan seperti yang diceritakan kaummu, tapi ada beberapa hal dari kau yang seharusnya lebih baik. Seharusnya kalendermu dipenuhi namaku, tak perlu ada wisata kantor. Seharusnya telepon genggammu hanya dihiasi oleh seluk-beluk diriku, dan hapuslah semua permainan online bodohmu itu beserta semua sosial media yang hina. Seharusnya kau sengsara mencariku sejak kau lahir, dan ketika kita bertemu, aku bagaikan harta yang akhirnya kau temukan setelah pencarian yang m...

Musafir Amatir

Kau mengemas barangmu. Kau lipat satu-dua pakaian, tanganmu cekatan. Kau lipat lagi pakaian, keringatmu semakin deras. Kau masih melipat pakaian, tas itu tak bisa menjadi lebih besar. Berhenti! Kau mau ke mana? Di luar masih hujan deras. Nanti kau basah, tak ada yang ingin meneduhimu. Pintu kamarmu sudah kau kunci bagai sumpah. Sekarang kau hendak ke mana? Roda dari tasmu tak bisa berputar selamanya. Dan wajahmu sudah lembab sebelum terkena air hujan. Air matamu akan tetap mengalir. Di antara semua pakaian yang kau kemas, emosimu tidak berada di dalam tas konyol itu. Tas itu kosong. Semuanya kau tinggal di kamar terkunci janji. Sekarang kau mau ke mana? Tak ada tempat untuk kau bersandar di luar sana. Bukalah perlahan lipatan pakaianmu. Dan kembali tidur.

Lukisan Larakinasih

     Seorang wanita berkebaya hijau, lengkap dengan batik Parang. Duduk bagaikan seorang Ksatria martir dari dongeng-dongeng negeri Eropa. Kedua bola matanya menatap lurus kepada siapapun yang melihat lukisan dirinya. Dagunya terlihat sedikit didongakkan. Tak ada sehelai senyuman yang terlihat. Ia mamakai dua cincin. Rambut hitamnya yang di gelung dengan rapih. Sebuah meja bundar dilengkapi dengan sebuah buku yang halamannya terbuka dan ditemani lilin berwadah ukiran besi yang bercabang tiga, menambah kesan wibawa pada wanita dan lukisan ini secara keseluruhan.     Kau yang berkebaya hijau, apakah benar kau seperti apa yang diceritakan oleh lukisan ini? Atau ini hanya wadah pujian untuk si pelukis?.      Kau tak mau mengeluarkan suatu kalimat pencerah pertanyaanku. Kau justru memulai prolog suatu cerita.      Beberapa bayi membelah dirinya dari rahim wanita yang tak menyangka bahwa dirinya akan bertahan hingga usia dewasa. Kau, wani...

Kutukan Penghuni Rumah Entah Berantah

         Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, karena aku memutuskan untuk berburu dengan cuaca yang sedang berkabut. Aku gegabah mengambil suatu tindakan hanya demi menjernihkan pikiran. Memang cukup susah untuk melihat merpati-merpati itu, tak jarang aku hanya menembak angin. Tapi itu bukan berarti aku tak berhasil menembak mereka. Semakin bertambahnya hasil buruanku, semakin merah juga pipiku. Aku berpikir bahwa pada saat itu aku harus pulang, selain karena aku merasa cukup dengan hasil buruanku, aku juga merasakan angin yang bertambah dingin menembus tubuhku. Aku memasukkan tubuh-tubuh merpati yang sudah mati ke dalam karung goni yang sudah kusiapkan.     Tentu saja pada saat itu aku hanya seorang diri di padang rumput yang melintang luas. Aku berjalan tanpa bisa melihat jelas apa yang ada di hadapanku. Aku berjalan ditemani dengan kusutnya pikiran dan delusiku. Tak memedulikan apa isi dari kabut-kabut tebal ini. Mungkin saja ada monster berkep...

Sebagai Romo Yang Baik

      Pada ketikan ini mungkin aku akan terdengar seperti seorang romo yang tidak ingin mendengarkan pengakuan dari jemaatnya, namun aku bukanlah seorang romo, dan teman-temanku bukanlah sekumpulan jemaat. Aku sangat menyukai ketika seseorang datang kepadaku untuk mencurahkan isi hati mereka, rasanya seperti sebilah pedang sedang dipindahkan dari pundak kanan ke pundak kiriku oleh mereka. Aku telah diberi kehormatan dan kepercayaan untuk menyimpan rahasia dan hati mereka. Aku merasa senang mengetahui bahwa aku tidak diragukan.      Curahan hati mereka sebagian besar yaitu mengenai kisah romansa yang biasa terjadi pada kalangan remaja. Dua bulan terakhir sudah ada, kurang lebih, sepuluh orang yang melakukan 'pengakuan' kepadaku soal kisah romansa mereka. Aku menerima pengakuan mereka dengan khusyuk dan dilanjutkan dengan pandanganku sebagai orang ketiga, diikuti dengan solusi. Sebagai orang yang belum pernah menjalani hubungan yang serius dengan lawan jenis,...

Lukisan Untukmu

Nanti jari ini berdarah-darah, memenuhi lantai merah. Kau pun takkan peduli. Terkoyak-koyak kau buat jantung. Enggan membelah lapisan luar kulit. Secara perlahan, tak ada lagi buah di hadapan kain putih. Air telah mencampurkan semua warna. Gelap dan membosankan.  Lukisannya tidak jelas. Buahnya sudah hilang. Dua bola mata yang tak berpasangan. Tak mau berpasangan. Mengharapkan satu-dua jiwa menilik. Memungut warna merah dari lantai dengan pisau. Menghunuskannya pada kain putih. Nanti lukisan berbau anyir ini akan terjual cepat. Kau pun takkan peduli. Seribu jahitan baik di kulit maupun di kain. Dan kau, hidup dengan jari utuh.

Sifat Warga Jakarta

    Jakarta tidak pernah berdamai dengan nasibnya. Tidak pernah benar-benar berdamai. Satu purnama telah terlewati di Jakarta, di mana tubuhnya tak pernah kering sepenuhnya. Selalu bersembunyi dari si penyebab lembabnya Jakarta.       Walau sembunyi, kebisingan selalu hadir di Jakarta. Bahkan saat ia terlelap dengan pelukan sinar bulan, dibalik asap hitam. Jakarta tak mau mematikan mata lampunya. Orang-orang terus hidup dan berlari, sombong akan ego yang dimiliki. Ramai dan gaduh.      Jakarta melayaniku dengan keramaian. Melewati kerumunan manusia tanpa jiwa. Bersentuhan dengan ribuan penglihatan manusia lainnya. Manusia-manusia yang kubenci perihal sesuatu yang tak berdasar. Aku benci karena dari antara ribuan manusia ini, tak ada satupun yang benar-benar peduli kepadaku.      Tidak ada manusia di Jakarta yang peduli, jika aku mengatakan bahwa aku tersenyum ketika melihat dua anak kecil yang berlarian dan tertawa sambil mengg...

Filosofi Pisang

      Hal-hal tidak masuk akal yang terjadi pada kehidupanku memang sering terjadi, tapi bukan berarti hal yang masuk akal tidak pernah terjadi. Beberapa bulan ini aku secara perlahan mulai terbiasa dan beradaptasi dengan ke-absurdan masyarakat. Aku seperti anak indigo yang sedang membiasakan diri hidup berdampingan dengan hantu. Aku menelaah faktor dari segala faktor yang menyebabkan suatu tindakan manusia agar semua ini masuk akal untukku, dan agar aku dapat mengerti sudut pandang mereka. Namun, dari semua hal-hal yang mulai masuk akal, hanya satu hal yang membuatku tak perlu menelaah lebih dalam faktor dari tindakan manusia tersebut.       Suatu pagi yang tidak spesial di hari Sekolah, aku berangkat dengan ojek online dan dengan pemandangan yang sama. Selalu melewati beberapa lampu merah, bertemu siswa dari sekolah lain yang berangkat pada jam yang sama, klakson di mana-mana, dan melewati truk hitam kecil yang menjual pisang. Truk itu parkir di ping...

Surat Dari Tubuh Tak Ber-inang

      Aku sudah menjalani sembilan bulan hidup dengan umur 16 tahun. Pada tahun ke-16 aku hidup di dunia ini, aku merasa bahwa tidak pernah ada yang benar-benar singgah pada jiwa yang dimiliki tubuh ini. Aku merasa seperti laut di tengah gunung. Temanku selalu memiliki teman lain yang lebih dekat. Aku selalu fokus pada mengembangkan potensi diriku yang mayoritas gagal berkembang. Sejujurnya, aku lelah terus mempelajari kesalahanku. Aku rasa ini sudah cukup. Saatnya aku meraih atau mendapatkan sesuatu, bukan?.     Aku menyukai momen-momen di mana aku hanya berdua saja antara jiwaku dan tubuhku. Percakapan imajiner yang terjadi nyaris setiap menit. Karena dengan itu aku tak perlu bergantung pada benang dari tubuh manusia lain. Aku bebas menentukan apa yang ingin aku lakukan. Aku juga menyadari bahwa manusia tidak pernah benar-benar peduli dengan manusia lainnya sebab mereka terlalu peduli dengan diri mereka masing-masing sehingga sampai lupa untuk menilai kehadira...