Lukisan Untukmu
Nanti jari ini berdarah-darah, memenuhi lantai merah.
Kau pun takkan peduli.
Kau pun takkan peduli.
Terkoyak-koyak kau buat jantung.
Enggan membelah lapisan luar kulit.
Secara perlahan, tak ada lagi buah di hadapan kain putih.
Air telah mencampurkan semua warna.
Gelap dan membosankan.
Lukisannya tidak jelas. Buahnya sudah hilang.
Dua bola mata yang tak berpasangan. Tak mau berpasangan.
Mengharapkan satu-dua jiwa menilik.
Memungut warna merah dari lantai dengan pisau.
Menghunuskannya pada kain putih.
Nanti lukisan berbau anyir ini akan terjual cepat.
Kau pun takkan peduli.
Seribu jahitan baik di kulit maupun di kain.
Dan kau, hidup dengan jari utuh.
Komentar
Posting Komentar