Mengatasi Rasa Cemas
Sejujurnya aku ingin sekali bercerita tentang kekhawatiranku akhir-akhir ini, tapi aku takut jika menceritakannya terus menerus justru membuat tidurku tidak nyenyak dan gelisah, seperti yang sudah-sudah.. Oh ya tuhan.. kalian tidak akan tahu seberapa mengerikannya malam itu, malam ketika aku mencapai puncak overthingking-ku. Bahkan untuk menceritakannya kembali dan mengingatnya lagi rasanya mengerikan. Jadi sekarang, demi kesehatan mental dan pikiranku, aku lebih memilih untuk menceritakan keseharianku pada liburan semester ini, yang di mana aku tidak liburan sama sekali, dan aku hanya akan menceritakan hal-hal yang ternyata membuatku tenang.
***
Selama dua hari yang lalu aku tidur di kamar Eyang. Aku memutuskan untuk tidur di kamar Eyang karena kegelisahan yang kualami pada hari-hari yang lalu. Rasanya, kamar Eyang adalah tempat yang cocok untuk aku mencari suasana yang baru. Eyang tidur di sisi sebelah kanan kasur, sisi di mana Eyang papa tidur sebelum ia meninggal. Dan aku di sebelah kiri. Karena aku sakit, Eyang memutuskan untuk memijat tubuhku, mulai dari tengkuk leher hingga jari-jari kaki. Pijatannya masih kuat untuk usianya yang sudah tidak lagi muda tentu saja. Aku jarang sekali menonton TV di kamar tidur, semenjak TV di kamarku rusak. Rasanya menenangkan sekali mendengar suara keramaian dari siaran langsung program TV yang sedang Eyang tonton. Sejak aku kecil, Eyang suka sekali menonton program dangdut. Pada hari kedua obrolanku dengan Eyang lebih panjang dari pada hari sebelumnya. Berawal dari topik bagaimana Eyang pada masa mudanya sekolah di Cimahi untuk menjadi seorang Bidan, hingga bagaimana beliau bertemu Eyang papa.
Ketika mulai membicarakan tentang Eyang papa, pijatannya sempat terjeda beberapa kali, lalu lanjut namun tidak sekuat yang sebelumnya. Pijatannya terasa lebih halus. Atau ya mungkin saja karena Eyang lebih fokus dengan program dangdut yang mulai seru. Lampu mulai dimatikan, hanya cahaya berasal dari TV, jendela, dan lampu tidur. Eyang mulai obrolan kembali, topiknya tentang anak-anak sekolah. Aku yang mempunyai banyak uneg-uneg tentang topik ini, mengeluarkan isi hatiku. Disambut dengan Eyang yang tak kalah tertarik dengan ceritaku. Aku jadi berpikir... sudah lebih dari satu tahun Eyang tidur tanpa ditemani Eyang papa disebelahnya (setelah Eyang papa meninggal, papa menemani Eyang tapi itupun ketika Eyang mulai tertidur) apakah eyang pernah merindukan obrolan tengah malam seperti ini? Bertukar cerita tentang keseharian kita kepada teman yang berada di sebelah kita yang juga sama lelahnya. Entahlah, namun aku harap dua malam itu aku berhasil menghiburnya dari siklus malamnya yang berkala, mungkin, kesepian.
9 Juli 2026
Komentar
Posting Komentar