Surat Dari Tubuh Tak Ber-inang
Aku sudah menjalani sembilan bulan hidup dengan umur 16 tahun. Pada tahun ke-16 aku hidup di dunia ini, aku merasa bahwa tidak pernah ada yang benar-benar singgah pada jiwa yang dimiliki tubuh ini. Aku merasa seperti laut di tengah gunung. Temanku selalu memiliki teman lain yang lebih dekat. Aku selalu fokus pada mengembangkan potensi diriku yang mayoritas gagal berkembang. Sejujurnya, aku lelah terus mempelajari kesalahanku. Aku rasa ini sudah cukup. Saatnya aku meraih atau mendapatkan sesuatu, bukan?.
Aku menyukai momen-momen di mana aku hanya berdua saja antara jiwaku dan tubuhku. Percakapan imajiner yang terjadi nyaris setiap menit. Karena dengan itu aku tak perlu bergantung pada benang dari tubuh manusia lain. Aku bebas menentukan apa yang ingin aku lakukan. Aku juga menyadari bahwa manusia tidak pernah benar-benar peduli dengan manusia lainnya sebab mereka terlalu peduli dengan diri mereka masing-masing sehingga sampai lupa untuk menilai kehadiran dari tubuh lain. Hal-hal seperti itu bermunculan di dalam pikiranku ketika aku sedang menunggu ojek online di depan sebuah mall yang berada di salah satu jalan utama kota Jakarta yang sibuk dan padat.
Kendaraan-kendaraan yang melintas seakan-akan mengatakan kepadaku bahwa, jika memang mayoritas manusia berpikir seperti itu, maka apapun yang aku lakukan sekarang tidak akan dilirik oleh satu bola mata-pun. Biar aku berpikir... mungkin seperti berlari secara garis lurus ke-depan tanpa memperdulikan Bus yang sangat tinggi berada di sebelah pundak kananku?. Orang-orang lain tidak akan peduli. Sangat narsistik diriku berpikir bahwa setidaknya ada empat orang yang peduli denganku (Kecuali orang tuaku dan nenekku). Aku mulai menganggap bahwa memperhatikan penampilanku adalah hal yang sia-sia. Toh, manusia lain tidak ada yang peduli, mereka juga akan memperhatikan diri mereka sendiri dan ketakutan sendiri jika mereka merasa bahwa penampilan mereka sepertinya tidak bagus, sehingga tidak sempat untuk memperhatikan penampilan dari orang lain.
Ternyata manusia lain ada yang menerima umur 16 tahun berbeda dariku. Aku menyambut perwujudan dari Kesendirian dalam hidupku bagaikan lukisan Tuhan dengan Adam. Sedangkan, manusia lain menyambut perwujudan dari kasih Sayang ke dalam hidup mereka bagaikan menarik kambing lemas ke ruang penjagalan. Se-berdamai-berdamainya diriku dengan rasa Kesendirian ini, tak bisa dipungkiri bahwa aku termasuk ke dalam 'manusia lain' yang juga membutuhkan suatu pengakuan akan kegemaran manusia lain terhadap diriku. Untuk memastikan pertanyaan yang baru kusadari telah lama berdebu di belakang kepalaku, yaitu "Apakah aku layak untuk dicintai?".
Manusia lain menemukan manusia lain. Manusia lain memberi pengakuan ke manusia lain, yang entah bagaimana sepertinya itu mem-validasi jiwa satu sama lain. Walaupun, ada beberapa yang kemudian tersakiti kembali dengan pengakuan itu sendiri.
Teman-temanku memberi tahu kisah kasih sayang mereka bersama gender lain. Sejujurnya, aku tidak peduli. Ombak realitas menghantam jiwaku ketika giliranku yang ditanyakan perihal perasaanku terhadap gender lain. Ya Tuhan, sebenarnya aku tidak nyaman ketika membahas hal seperti ini. Aku merasa sedikit malu ketika membahas masalah perasaan, karena aku dibesarkan di lingkungan yang hanya menunjukkan rasa senang dan marah saja, selebihnya tidak pernah benar-benar ditunjukkan, cenderung tabu. Aku selalu menjawab bahwa aku tidak pernah benar-benar sayang dengan seseorang, menurutku kata "Sayang" atau "Cinta" itu tidak bisa sembarang diberikan kepada seseorang. Kata-kata tersebut adalah kata yang spesial, yang sepatutnya dicantumkan kepada spesifik manusia saja. Oleh karena itu, aku selalu mempertanyakan perasaanku ketika aku tertarik pada seseorang, jangan sampai kata-kata spesial itu tercantum pada orang yang salah.
Manusia lain terlihat sangat gampang menemukan tambatan kasih sayang mereka, berpindah-pindah inang, mendapatkan tempat untuk singgah, itu semua terkadang terjadi kurang dari empat bulan. Menurutku itu mengerikan bagaimana manusia dengan gampangnya melupakan seseorang yang dahulu dianggap spesial hanya untuk diri mereka bertemu dengan orang lain yang berbagi ke-spesial-an yang sama. Dengan kata lain, manusia yang mereka anggap 'spesial' itu sebenarnya tidak benar-benar spesial. Aku lelah membahas kisah kasih di sekolahku, yang semakin lama terdengar semakin konyol. Bagaimana tidak?, sebagian besar hubungan yang dijalankan adalah hubungan yang tidak jelas kedepannya mau bagaimana. Hubungan yang tidak memiliki tujuan adalah hubungan yang sia-sia dan membuang-buang waktu.
Walaupun begitu, aku sangat benci dan jijik untuk mengakui bahwa, sepertinya aku juga membutuhkan kasih sayang atau pengakuan dari gender lain (selain papa dan kakek). Namun, aku tidak ingin menjadi seperti mereka yang gampang berpindah-pindah rumah. Aku tidak pernah menganggap remeh perasaan diriku begitu juga perasaan orang lain. Dan sepertinya, itulah mengapa, aku telah mencintai seseorang yang akan berjalan empat tahun. Rasanya seperti menarik layang-layang tanpa benang.
Komentar
Posting Komentar