Kutukan Penghuni Rumah Entah Berantah

       Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, karena aku memutuskan untuk berburu dengan cuaca yang sedang berkabut. Aku gegabah mengambil suatu tindakan hanya demi menjernihkan pikiran. Memang cukup susah untuk melihat merpati-merpati itu, tak jarang aku hanya menembak angin. Tapi itu bukan berarti aku tak berhasil menembak mereka. Semakin bertambahnya hasil buruanku, semakin merah juga pipiku. Aku berpikir bahwa pada saat itu aku harus pulang, selain karena aku merasa cukup dengan hasil buruanku, aku juga merasakan angin yang bertambah dingin menembus tubuhku. Aku memasukkan tubuh-tubuh merpati yang sudah mati ke dalam karung goni yang sudah kusiapkan.

    Tentu saja pada saat itu aku hanya seorang diri di padang rumput yang melintang luas. Aku berjalan tanpa bisa melihat jelas apa yang ada di hadapanku. Aku berjalan ditemani dengan kusutnya pikiran dan delusiku. Tak memedulikan apa isi dari kabut-kabut tebal ini. Mungkin saja ada monster berkepala raksasa yang sebentar lagi akan menerkamku, atau mungkin akan ada ular bertaring yang sudah berada dihadapanku. Kita tidak ada yang tahu. Aku terus berjalan sampai aku menyadari bahwa sepertinya aku salah arah. Perjalanan keberangkatanku tidak selama ini. Aku berhenti dan melihat sekitar, aku benar-benar berada di entah berantah. Aku mencoba melihat dengan sisa kemampuan melihatku, untuk mencari setidaknya satu objek yang terlihat diantara kabut-kabut ini. 

    Samar, tapi pasti. Aku melihat satu benda hitam. Bagian atas benda tersebut terdapat dua bentuk segitiga dan bawahnya yang masih pudar dalam penglihatanku. Dengan cepat aku menghampiri benda itu, yang semakin lama, semakin besar. Aku sudah hampir sampai, dan sekarang benda itu sudah lebih tinggi dari tubuhku. Jauh lebih tinggi, dan lebih besar dari yang kukira. Benda itu memiliki pintu ganda sebagai jalur masuk utama, terdapat dua jendela yang berukuran besar pada bagian kiri dan kanan pintu utama, sebuah teras yang memanjang secara horizontal dari barat sampai timur rumah yang akan menyambut para tamu sebelum melewati pintu utama. Tak cukup sampai disitu, aku mendongakkan kepalaku ke atas untuk melihat lantai ke dua dari benda yang sekarang sudah berubah menjadi rumah berwarna hitam itu. Bagian atas rumah itu dihiasi dengan jendela berkaca patri yang indah. Terdapat juga balkon yang berada di bagian tengah rumah, beberapa cerobong asap terlihat mengeluarkan asap. Aku menyimpulkan bahwa rumah ini berpenghuni.

   Aku masih malu untuk meminta bantuan dengan penghuni rumah tersebut, sehingga aku memutuskan untuk sedikit mengintip dari salah satu jendela besar yang berada di lantai dasar. Aku tak mengira bahwa aku akan melihat seorang wanita dewasa, ia memakai gaun ber-crinoline berwarna merah gelap dengan lengan panjang, dan kerah leher yang merambat sampai tenggorokannya, dilengkapi dengan bros kameo. Ia memiliki rambut pirang ke-cokelatan dan bergelombang. Terurai mencapai atas pinggangnya. Wajahnya yang manis seperti sedang termenung. Ia terlihat sedang menulis dengan quill pen di atas meja bundar berukuran kecil. Perapian yang dinyalakan di hadapannya membuat suasana menulis tersebut terlihat hangat dan khusyuk. Namun aku hanya melihat wanita itu saja, di mana penghuni yang lain? Apakah sedang tidur? Ah, tidak mungkin, di luar memang berkabut, tapi bukan berarti sudah larut malam. Untuk rumah sebesar ini setidaknya ada satu pelayan. Namun, aku tidak melihat satupun pelayan. Mungkin di lantai atas?.

    Berdasarkan penampilan wanita itu, sepertinya penghuni rumah ini ramah. Walaupun sedikit aneh untuk seorang wanita tidak menyanggul rambutnya selain waktu tidur. Aku menaiki anak tangga yang menuju ke teras rumahnya, lalu aku mengetuk pintu ganda yang terbuat dari kayu jati tersebut. Membutuhkan waktu sekitar satu menit untuk si penghuni rumah membukakan pintunya. Aku menyimpulkan, mungkin wanita itu jarang mendapatkan seorang tamu, sehingga ia sedikit kaget ketika ada yang mengetuk pintunya. Daun pintu sebelah kiri terbuka lebih dahulu, diikuti dengan kepala berambut pirang ke-cokelatan, tubuhnya menyusul. Wanita itu terlihat bingung dan menanyakan siapa diriku. Aku memperkenalkan diriku dan bagaimana aku bisa berakhir di depan rumahnya. Ia terlihat sangat bersimpati, walaupun sedikit aneh, karena ia mengatakannya dengan senyuman. Ia mempersilahkanku untuk beristirahat di dalam rumahnya. Tak bisa dipungkiri bahwa kondisi tubuhku rasanya sudah seperti bongkahan es, dan rumahnya terasa sangat hangat. Aku tak bisa menahan diri untuk melakukan basa-basi penolakkan.

    Wanita itu benar-benar menyambutku seolah-olah aku adalah Pangeran Albert dari Wales. Aku berekspektasi bahwa yang akan melayaniku adalah seorang pelayan, namun ternyata yang melayaniku adalah majikannya. Aku menggantung topi dan mantelku yang berada di sebelah pintu utama. Dia mengantarku ke ruang tamu, tempat sebelumnya ia menulis, melewati lorong yang dipenuhi lukisan-lukisan indah, dan buku-buku yang tersusuh rapih pada setiap lemari buku. Aku dipersilahkan untuk duduk di atas sofa yang sangat nyaman. Wanita itu mondar-mandir merapihkan ruangannya, yang sebenarnya sudah rapih, agar aku merasa nyaman. Aku diberi secangkir teh hangat yang ia buatkan, beserta cream yang disediakan pada gelas terpisah. Wajah yang sebelumnya aku lihat melalui jendela terlihat sedikit berbeda dengan wajah yang kulihat sekarang. Wajahnya terlihat lebih bernyawa. Wanita itu akhirnya duduk di atas sofa yang berada di seberangku, terpisah oleh satu meja pendek yang terbuat dari kayu jati.

    Segala rasa penasaranku tentang arsitektur rumah ini sudah terpuaskan. Sekarang yang membuatku penasaran adalah pemilik rumah ini. Wanita yang sekarang sedang duduk di hadapanku. Ia seperti terlihat baru dengan kondisi ini, seperti bingung akan apa yang harus ia lakukan ketika seorang tamu datang. Raut wajahnya seperti menyimpan banyak hal yang ingin ia katakan. Berdasarkan pakaian dan rumahnya, jelas sekali bahwa ia lahir dari keluarga yang cukup terpandang. Aku berusaha memecah keheningan, sekaligus kebingungan. Aku menanyakan siapa namanya.

    "Magdalena. Namun, kerabatku biasa memanggilku Len atau Lena." Ia menjawab dengan senyum paling tulus yang pernah kulihat. Namanya terlihat sangat cocok dengan ketampilannya yang anggun.

    "Baiklah. Kau tinggal sendiri saja di dalam rumah sebesar ini?." Aku malas berbasa-basi, langsung saja ke inti dari rasa penasaranku semenjak melihat Nona Magdalena. 

    "Ya. Begitulah. Aku yang memilih pilihan ini." Ia menjawab dengan memainkan jari-jari dan kuku-nya. Keanggunannya seketika berubah menjadi keraguan. Sepertinya aku terlalu cepat untuk menanyakan hal tersebut. Namun, matanya seperti memintaku untuk terus melemparkan pertanyaan-pertanyaan untuknya. Mengingat bahwa aku menyimpulkan kehidupan Nona Magdalena seperti tidak terjamah untuk waktu yang cukup lama, dan pasti membutuhkan tempat untuk mengeluarkan beberapa kisah. Baiklah jika itu maumu Nona.

    "Kau menjawab kepadaku seakan-akan kau sangat senang hidup sendiri. Padahal saat aku melihatmu menulis, kau terlihat merenung." Aku bertanya dengan nada sedikit menyindir, karena menurutku Nona Magdalena memiliki kepribadian yang kompleks dan tidak jelas. Itu membuatku tertarik.

    "Memangnya siapa yang ingin hidup denganku, Tuan?. "
Aku sedikit tersentak mendengarnya. "Aku tidak pernah merasa cukup dengan ketampilanku dalam standar masyarakat. Semua yang kulakukan seperti tidak pernah cukup. Aku tidak pernah benar-benar memenangkan hati seseorang. Aku tidak menyenangkan, namun aku juga tidak membosankan. Aku tidak bodoh, namun aku juga tidak begitu pintar. Mereka bilang aku kreatif, namun tidak ada yang mau membeli lukisanku. Mereka bilang aku cantik, namun tak ada satupun pria yang menyukaiku. Mereka bilang aku berdansa sangat indah, namun sangat sedikit yang mengantre pada kartu dansa-ku. Keberadaanku yang selalu berada ditengah-tengah atau di posisi aneh ini, sepertinya membuatku tidak menarik di mata siapapun. Hal ini juga membuatku selalu merasa seperti tidak benar-benar pada tempatku yang seharusnya. Aku tidak pernah merasa benar-benar cocok pada suatu kelompok sosial. Pujian terus berdatangan namun tidak ada validasi nyata yang membuktikan itu, Tuan. Aku meragukan semua pujian masyarakat. Aku memutuskan untuk mencoba mengubah kepribadianku untuk lebih condong pada satu hal, hal yang paling diterima masyarakat. Agar keberadaanku diterima dan cocok pada masyarakat mayoritas. Aku terus mengubah dan mengubah hingga rasanya diriku yang lama perlahan menghilang. Aku menjadi sengsara karena ini.

    "Di satu sisi aku memang, akhirnya, diterima masyarakat. Dan aku cukup berterima kasih akan itu. Namun, aku menjadi malu tentang diriku yang sebenar-benarnya sebelum semua ini. Aku mengutuk-sumpahi standar masyarakat. Termasuk standar kecantikan. Dalam hal kecantikan, tidak ada yang bisa diubah-kan, Tuan?. Aku tidak bisa diterima masyarakat karena fisikku yang tidak mencapai standar mereka, sehingga tidak ada lelaki yang meminangku, bahkan hingga saat ini umurku sudah menuju kepala tiga. Ini menyedihkan. Aku menjadi mempertanyakan, 'bagaimana dengan keterampilanku yang lain?' apakah keterampilan dan bakatku yang cukup banyak masih kurang untuk membuat para laki-laki tertarik kepadaku?. Temanku bergonta-ganti pasangan, sementara aku dibuat babak belur oleh standar yang mereka ciptakan. Saat kau merasa kau sudah diposisi yang cukup, namun ada satu hal yang kembali membuatmu tidak cukup. Sehingga kau hidup hanya dipenuhi dengan kau terus mencoba-mencoba dan mencoba. Tidakkah kau akan lelah?. 
Aku lelah, Tuan. Dan rumah di tengah padang rumput ini sedikit banyak membantuku menjauh dari masyarakat yang menuntutku banyak hal."

    Nona Magdalena terdiam. Bola mata yang sebelumnya mengarah kepadaku, kini sudah mengarah pada karpet merah ruang tamu. Ia seperti merenung kembali semua kehidupan sebelumnya. Tangannya terlihat mengepal selama bercerita. Aku merasa bersalah karena sudah menyindir kepribadiannya yang kompleks dan tidak jelas. Nona Magdalena yang malang, korban dari stratifikasi masyarakat. Sekarang aku melihatnya justru seperti sedang mengutuk dirinya sendiri dengan mengisolasi diri. 

    "Namun, apakah kau kesepian, Nona?."

    Pertanyaanku menimbulkan keheningan sepersekian detik. Aku mulai merasakan simpati akan keadaan mental Nona Magdalena untuk kedepannya.

    "...Aku mengisi kekosonganku dengan menari-nari sendiri di ruang tamu dan di kamarku. Aku mempunyai mesin terbaru yang bisa menghasilkan musik, Tuan. Yaitu Gramofon. Menyenangkan bukan?. Mungkin terlihat sedikit seperti perempuan gila, tapi siapa yang peduli?. Lalu aku baru saja membeli kanvas dan cat warna untuk melengkapi ruang melukisku. Dan asal kau tahu, melukis butuh waktu berhari-hari. Oh ya, dan tak lupa buku-buku di lemari yang berada dibelakangmu, Tuan. Ada banyak yang belum kubaca. Buku-buku yang kubaca menginspirasiku untuk menulis, seperti yang tadi tuan lihat melalui jendela. Dan, hmm lalu aku juga sering mencoba resep-resep masakan terbaru dari surat kaba-"

    "Apakah kau kesepian, Nona?.."

    Nona Magdalena terdiam. Senyumnya memudar. Kini giliran keheningan yang berbicara di antara kita. Cangkir teh sudah tak lagi berada di jemariku. Kekhawatiran akan diriku kini sepenuhnya kuberikan untuk Nona Magdalena.  

    "Ya, Tuan. Terima kasih..."

. . .



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Dari Tubuh Tak Ber-inang

Lukisan Untukmu