Sifat Warga Jakarta

    Jakarta tidak pernah berdamai dengan nasibnya. Tidak pernah benar-benar berdamai. Satu purnama telah terlewati di Jakarta, di mana tubuhnya tak pernah kering sepenuhnya. Selalu bersembunyi dari si penyebab lembabnya Jakarta.  

    Walau sembunyi, kebisingan selalu hadir di Jakarta. Bahkan saat ia terlelap dengan pelukan sinar bulan, dibalik asap hitam. Jakarta tak mau mematikan mata lampunya. Orang-orang terus hidup dan berlari, sombong akan ego yang dimiliki. Ramai dan gaduh. 

    Jakarta melayaniku dengan keramaian. Melewati kerumunan manusia tanpa jiwa. Bersentuhan dengan ribuan penglihatan manusia lainnya. Manusia-manusia yang kubenci perihal sesuatu yang tak berdasar. Aku benci karena dari antara ribuan manusia ini, tak ada satupun yang benar-benar peduli kepadaku. 

    Tidak ada manusia di Jakarta yang peduli, jika aku mengatakan bahwa aku tersenyum ketika melihat dua anak kecil yang berlarian dan tertawa sambil menggendong seekor anak kucing kecil. Tidak ada manusia di Jakarta yang peduli, jika aku mengatakan bahwa aku gemar menulis karangan sampah di jam dua belas malam.     

    Tidak ada satupun manusia di Jakarta yang peduli, jika aku mengatakan bahwa aku sangat takut jika tidak ada yang ingin berteman denganku, sehingga aku harus bersembunyi di toilet hanya untuk menangis.  Tidak ada satupun manusia di Jakarta yang peduli, jika aku mengatakan bahwa saat aku mengikuti ajang kecantikan, aku hanya ingin memenangkan ajang tersebut agar banyak manusia lain yang ingin berteman denganku. 

    Dan begitulah Jakarta. Mereka berlalu-lalang. Jalan dan berjalan dan berjalan, dengan tujuan buta dihadapan. Sehingga mereka lupa untuk melihat sekeliling mereka.


Atau mungkin aku hanya menjadi pribadi yang egois. Tapi siapa yang peduli?.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutukan Penghuni Rumah Entah Berantah

Surat Dari Tubuh Tak Ber-inang

Lukisan Untukmu