Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Jarum Jam

Papan tik terus mengetik, tulisan terus tertulis. Orang-orang terus berjalan maju menembus waktu. Setiap jam mendetikan sebuah perkembangan sifat seseorang. Tetapi jam di rumah ku seperti tak pernah hidup kembali. Bunga-bunga dan pohon terus bertumbuh. Suara detik Jam di rumah semakin kencang. Sudut kamar ini tak akan membawa ku kemana-mana. Haruskah ku pecahkan saja kaca jam itu?. Angin tak henti berhembus menembus kain. Rambutku tidak akan menjadi lebih pendek lagi. Jarum jam seakan menusuk inti hati ku. Memaksaku untuk terus bergerak. Sebuah pergerakan seakan menghentikan semuanya. Binatang tak beranak. Tak ada daun di musim gugur. Dan aku berusaha melangkah maju seiring jarum jam.

Setiap Roda Harus Berputar

          Hidup tetap berjalan. Setiap roda telah berputar. Seperti yang kau paparkan di hari itu. Hari itu. Mimpi-mimpi masih berada di ketinggian awan. Belum pernah kupakai kembali jaket kulitku semenjak hari itu. Rambutku juga masih memanjang. Musik-musik yang kudengar belakangan ini terdengar cukup indah. Lalu ada sebuah kegagalan yang terjadi kembali, namun tidak membuatku terkejut. Aku benar-benar melanjutkan hidup. Untungnya ada sebuah kegiatan yang membuatku produktif dan memakan waktu ku seharian.           Kembali aku berkenalan dengan wajah-wajah baru, sifat yang sudah familiar. Aku bertemu salah satu anggota pemerintah negara ini yang cukup relevan. Aku juga mengenal lebih dalam dengan beberapa anggota organisasi-ku. Ternyata mereka menyenangkan, mereka membuatku tertawa dan aku membuat mereka tertawa. Sungguh, melihat seseorang yang mengapresiasi leluconku benar-benar membuatku bahagia. Walau cukup melelahkan pada hari sebel...

You Were Never Really There

You were never there. But still life goes on. The rain fell on and on and on. It never really stopped. The fingers of wind touched my hair was never that soft. The leaves were trying to stick to the tree. People were just passing. They were passing the eyes that has been searching for you. But you were never there. The leather jacket that i wore, the fine makeup on my face, the hair that has grown, was waiting for you. People greeted me eye to eye, they've lost my eye. It never stopped searching for you. The question of your location was unknown, but i already knew where you were. Still i searched for you, but you were never there. With a heavy heart, i accepted the fact that you were never there. I know you will never come. I was so stupid to think that you're gonna be there. When i already knew the fact of everything about you on things. I was so excited to see you, after you canceled our appointment twice. I continue my life asking the question "What If you're here?...

Apa Yang Terjadi dengan Gambar Itu?

        Aku mengambil buku gambar dan pensilku. Kuraut ujung pensilku agar lebih nyaman ketika menggambar. Kopi sudah kubuat, takaran susunya lebih banyak dibanding kopinya. Sempat sedikit bingung tentang bentuk apa yang akan aku perintahkan pensil ini. Lalu aku berpikir "Mungkin kita bisa mulai dari mata? Namun agar sedikit berbeda, kita tambahkan air mata". Ide bagus, pikirku. Kugambar perlahan tapi pasti. Mata yang dilengkapi air mata yang menggenang sudah jadi,  sekarang kita buat hidung. Hidungnya kecil tidak begitu mancung. Kugerakan lagi pensilku kebawah, kugambar bibir yang tebal tapi pendek. Agar lebih realistis kugambar kerutan di wajahnya. Garis kerutan ketika tersenyum dan pada bagian kantung mata. Rambutnya sedikit lurus dengan poni yang berada persis di atas alisnya yang tipis dan panjang.        Lalu apa?. Seperti ada yang kurang dengan gambar ini. Oh, telinganya terlalu naik. Tapi setelah kuperbaiki, perasaanku tidak berubah t...