Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Lukisan Untukmu

Nanti jari ini berdarah-darah, memenuhi lantai merah. Kau pun takkan peduli. Terkoyak-koyak kau buat jantung. Enggan membelah lapisan luar kulit. Secara perlahan, tak ada lagi buah di hadapan kain putih. Air telah mencampurkan semua warna. Gelap dan membosankan.  Lukisannya tidak jelas. Buahnya sudah hilang. Dua bola mata yang tak berpasangan. Tak mau berpasangan. Mengharapkan satu-dua jiwa menilik. Memungut warna merah dari lantai dengan pisau. Menghunuskannya pada kain putih. Nanti lukisan berbau anyir ini akan terjual cepat. Kau pun takkan peduli. Seribu jahitan baik di kulit maupun di kain. Dan kau, hidup dengan jari utuh.

Sifat Warga Jakarta

    Jakarta tidak pernah berdamai dengan nasibnya. Tidak pernah benar-benar berdamai. Satu purnama telah terlewati di Jakarta, di mana tubuhnya tak pernah kering sepenuhnya. Selalu bersembunyi dari si penyebab lembabnya Jakarta.       Walau sembunyi, kebisingan selalu hadir di Jakarta. Bahkan saat ia terlelap dengan pelukan sinar bulan, dibalik asap hitam. Jakarta tak mau mematikan mata lampunya. Orang-orang terus hidup dan berlari, sombong akan ego yang dimiliki. Ramai dan gaduh.      Jakarta melayaniku dengan keramaian. Melewati kerumunan manusia tanpa jiwa. Bersentuhan dengan ribuan penglihatan manusia lainnya. Manusia-manusia yang kubenci perihal sesuatu yang tak berdasar. Aku benci karena dari antara ribuan manusia ini, tak ada satupun yang benar-benar peduli kepadaku.      Tidak ada manusia di Jakarta yang peduli, jika aku mengatakan bahwa aku tersenyum ketika melihat dua anak kecil yang berlarian dan tertawa sambil mengg...

Filosofi Pisang

      Hal-hal tidak masuk akal yang terjadi pada kehidupanku memang sering terjadi, tapi bukan berarti hal yang masuk akal tidak pernah terjadi. Beberapa bulan ini aku secara perlahan mulai terbiasa dan beradaptasi dengan ke-absurdan masyarakat. Aku seperti anak indigo yang sedang membiasakan diri hidup berdampingan dengan hantu. Aku menelaah faktor dari segala faktor yang menyebabkan suatu tindakan manusia agar semua ini masuk akal untukku, dan agar aku dapat mengerti sudut pandang mereka. Namun, dari semua hal-hal yang mulai masuk akal, hanya satu hal yang membuatku tak perlu menelaah lebih dalam faktor dari tindakan manusia tersebut.       Suatu pagi yang tidak spesial di hari Sekolah, aku berangkat dengan ojek online dan dengan pemandangan yang sama. Selalu melewati beberapa lampu merah, bertemu siswa dari sekolah lain yang berangkat pada jam yang sama, klakson di mana-mana, dan melewati truk hitam kecil yang menjual pisang. Truk itu parkir di ping...