Aku Hanya Berada Di Situ
Obrolan malam hari bersama teman, di mana salah satu dari kami akan mengungkapkan sebuah pendapat atau fakta mengenai satu sama lain yang sebelumnya belum pernah kami dengar, adalah tipe obrolan yang menurutku sangat berkesan. Biasanya, obrolan seperti ini akan membekas di pikiranku untuk, entah berapa windu lamanya. Ada banyak obrolan seperti ini yang berkesan bagiku, yang membekas hingga sekarang dan nanti. Salah satunya adalah yang terjadi sekitar satu bulan yang lalu, saat aku menginap di rumah temanku.
Malam sudah larut. Hampir semua makhluk sudah mematikan mata lampunya. Hanya aku dan dua temanku melawan ketenangan malam itu. Aku duduk di lantai, dengan iPad dan pensil ajaibnya menggambar sebuah potret wanita, yang sudah menjadi kebiasaanku ketika disuguhkan dengan media dan bahannya. Dua temanku berbaring dan duduk di kasur. Semakin larut, semakin menyelam ke lubuk pribadi. Bercerita ini dan itu. Tak sadar, topik sudah berpindah ke masalah percintaan. Ah.. Ya Tuhan.. aku paling malas ketika membahas ini. Tak akan ada habisnya, dan tak akan ada untungnya juga bagiku. Tidak akan mengubah takdir jodohku juga.
Persis. Ketika kalimat-kalimat tersebut berlayang-layang dipikiranku, temanku berkata;
"Gue paling ga suka ya, Lin, kalo lu ngomong ga bakal nikah atau ga bakal ada yang cinta sama lu!"
Aku sudah terbiasa dengan cara bicara temanku yang terus terang begitu, tapi isi dari perkataannya, itu lah yang menyentuh pikiranku hingga sekarang.
Aku mempunyai pernyataan seperti itu bukan dengan tujuan untuk menyari-nyari belas kasihan dengan nada putus asa, tapi ya karena ini berdasarkan fakta yang ada. Tentu aku masih mempunyai sedikit harapan untuk memiliki kekasih, tapi kemungkinan hal ini terjadi memiliki kesempatan yang sangat kecil. Dan bukan dengan tujuan untuk mengagung-agungkan diriku sendiri agar terlihat berbeda dari yang lain dengan hasil validasi. Tidak, aku tidak butuh itu.
Aku tumbuh tanpa merasa menjadi perempuan. Perempuan yang diinginkan sosial. Aku tidak dibentuk dengan standar yang sudah ada, yang di mana aku sebenarnya bersyukur, tapi di sisi lain ini juga menjadi kutukan bagiku. Perempuan lain bercerita kepadaku bagaimana mereka sering digoda oleh para lelaki. Dan yang kuperhatikan, mereka gampang sekali bercanda dengan kerabat laki-laki yang lain, bagaimana laki-laki ini gampang sekali tertawa dengan mereka, hal yang mereka sering tanyakan kepada teman-teman perempuanku adalah
"Kamu lagi dekat sama siapa? Pasti udah ada cowok ya".
Bagaimana timbal balik candaan dan obrolan mereka terjalin dengan penuh tawa yang mengalir dengan asyik. Namun, giliranku yang berbicara, para lelaki ini hanya menjawab dengan satu kata, dan hanya menyunggingkan ujung bibir. Astaga apakah leluconlu kurang lucu? Baiklah aku akan memikirkan lelucon yang lebih lucu. Semua teman perempuanku tertawa terbahak. Yang lain.. senyum. Obrolan yang beramai-ramai ini semakin lama, semakin membentuk sebuah gelembung yang mengesampingkanku. Timbal balik tak pernah benar-benar ke arahku. Aku semakin menyatu dengan suasana latar belakang. Aku seperti menghilang tembus pandang. Aku hanya berada di situ. Dan di situ.
Gimana ya rasanya jadi perempuan cantik, tubuh kurus bagus, rambut lurus, hidung kecil. Semua orang mengapresiasinya. Semua orang akan tertawa. Semua orang ingin berteman. Semua orang peduli dan khawatir akan dirinya.
"Kamu ga usah bandingin diri kamu sendiri sama yang. Kamu itu manusia paling unik yang pernah aku temuin. Kamu tuh punya ciri khas kamu sendiri". Kata-kata penyemangat daur ulang, agar orang yang mengetik blog ini setidaknya merasa sedikit lebih baik.
Orang-orang bilang, mereka tidak bisa membayangkan aku dicintai seseorang atau aku mencintai seseorang. Dahulu aku menganggap ini sebuah pujian, sekarang, aku merasa ini menyedihkan. Bagaimana aku akan menjadi sebuah figur individu untuk waktu yang cukup lama dalam benak mereka. Figur yang tidak berkesan. Tidak ada asosiasi apapun dengan hal apapun itu. Aku hanya berada di situ, di sudut paling membosankan di pikiran orang-orang. Abu-abu secara moral, di kehidupan yang hanya memilih antara hitam atau putih.
Aku sering merasa bahwa momen-momen di mana aku hanya seorang sendiri, adalah diriku yang sebenar-benarnya. Bukan aku yang percaya diri tampil di depan orang-orang, bukan aku yang ambisius di pelajaran-pelajaran, bukan aku yang berani memimpin suatu kelompok, bukan aku yang bersama teman-teman, bukan aku yang bersama keluarga. Aku justru menjadi diriku sebenarnya adalah ketika berbincang dengan gemuruh kota Jakarta dengan musik yang kupasang agar pikiranku tidak terlalu bising. Aku berbincang dengan klakson mobil, motor, denyit aspal, Mereka tidak menuntutku untuk menjadi yang mereka inginkan atau bayangkan. Tidak menuntutku untuk memasuki suatu standar sosial.
Aku juga ingin menjadi perempuan remaja normal. Bukan berpura-pura menjadi normal yang menguras energiku. Agar tidak terlihat sebagai 'murid aneh'. Aku juga ingin menjadi bagian dari kalian.
Komentar
Posting Komentar