Ruangan yang Berjendela Abu
Ruangan itu sesak. Empat dinding saling berhadapan tanpa sepatah obrolan terucap. Kau hisap rokok itu dalam-dalam, lalu kau hembuskan asap berkepul-kepul jumlahnya. Tanganmu gemetar. Wajahmu merah. Matamu dipenuhi lautan air racun jingga. Jendela ruangan itu sekarang berwarna abu. Ventilasi tidak mau bernapas. Mulutmu bingung antara menghisap rokok atau membantu mata mengeluarkan perasaannya. Kepulan asap bagaikan segerombolan orang yang memasuki ruangan ini. Apakah kau menangis sebab matamu perih perihal asap? Tidak. Kau gemetar, jari jemarimu bergerak dari dahi ke mulut secara berulang. Apakah ada sesuatu di kepalamu yang membuatmu terus meraba dahimu secara kasar? Kakimu juga tidak mau diam membelah lautan asap yang mulai menjadi abu pekat. Kau hisap rokok itu dalam-dalam, lalu kau hembuskan dua kali lipat lebih lama. Napasmu seperti mengeluarkan kata-kata yang tak bisa terucap. Kata-kata apa ini? Kenapa kau takut untuk memberi suara pada kata-kata ini? Dinding-ding...