Rasa Takut Seorang Pecundang
Satu bulan lebih sudah terlewatkan semenjak ulang tahunku yang ke 17 tahun, dan pada siang hari tadi aku menerima Kartu Tanda Pendudukku untuk pertama kali, dan melihat wajahku yang selalu terlihat jelek di mataku. Aku tidak pernah dan akan selalu menolak pikiranku ketika otakku ini mulai menawarkan untuk menjadikan topik "Kau Sudah Dewasa, dan semuanya sudah telat" pada malam hari. Karena jika aku memikirkannya, sudah pasti tidurku tak tenang, dan bisa berujung pada kondisiku di pagi hari dengan mata yang bengkak.
Ada banyak sekali yang berada di pikiranku sekarang, tapi aku tidak mau menyebutkannya satu per satu. Karena jika aku lakukan, aku akan menyadari betapa beratnya masa-masa yang akan ku lalui. Tapi pada intinya, hal-hal yang mendominasi pikiranku saat ini adalah tanggung jawab-tanggung jawab yang akan datang ke hidupku dan sudah pasti akan membebaniku. Maksudku, memikirkannya saja sudah membuatku panik, resah, dan gelisah. Bagaimana nanti ketika hari itu terjadi. Bahkan aku sendiri belum tahu tanggung jawab apa yang akan dianugerahi kepadaku.
Aku berkata seperti ini, bukan berarti aku tidak pernah mengalami masa-masa yang berat. Tentu saja aku pernah, oleh karena itu aku sering panik ketika memikirkan bahwa masa-masa itu pasti akan terjadi pada hidupku suatu saat nanti. Aku selalu mengambik sisi positifnya, di mana aku berhasil melewati masa tersebut, dengan keadaan tubuh yang masih utuh, bak veteran. Aku tahu bahwa aku pasti akan melewatinya, hanya saja aku takut pada dampak yang akan dihasilkan dari peristiwanya. Terutama dampak pada mentalku.
Pikiran-pikiran seperti ini yang membuatku takut untuk mengambil risiko. Takut mengambil kesempatan. Takut gagal. Karena aku takut melihat atau menyadari bahwa diriku sedang berada di titik rendah. Aku benci mengasihani diriku sendiri. Sementara di luar sana ada anak-anak seumuranku yang bernasib lebih beruntung, sedang merayakan situasi kemenangannya. Lalu, ketika aku menyadari bahwa aku melewati suatu kesempatan, aku akan mengutuk diriku ratusan purnama ke depan.
Sedikit banyak sifat ini aku salahkan pada ayahku. Tidak, aku tidak menyalahkan beliau sepenuhnya. Sosial media dan ibu bisa saja menjadi salah satu penyebabnya juga, kok. Ayahku tidak ingin kami, anak-anaknya, merasakan rasa sedih. Cukup rasakan sekali, lalu jangan diulangi lagi. Rasa sedih sudah seperti tabu di hidupnya, lalu diturunkannya pada anak-anaknya. Akibatnya, kami, terutama aku, menjadi bingung bagaimana cara menghadapi atau menyikapi rasa sedih. Padahal, ya namanya hidup, cepat atau lambat seseorang pasti akan mengalami kesedihan. Pasti. Dan itu manusiawi.
Aku menangis, maka aku hidup. Aku kecewa, maka aku berpikir.
Aku harap adik-adikku tidak menurunkan sifat ini kepada keturunan mereka nanti, biarkan anak-anak mereka merasakan kesedihan dan tidak malu atau merasa bersalah ketika mereka sedih atau kecewa. Sungguh, ini menyiksa; aku meraba-raba perasaan yang hinggap di hati dan menimbulkan rasa perih yang teramat, tapi tidak bisa ku ambil, malah mengeluarkan air melalui mata. Bertanya-tanya bagaimana cara menghilangkan rasa perih ini. Tapi ketika aku memberi tahu tentang perih ini, aku malah dianggap lemah dan akan disalahkan. Mondar-mandir mencari-cari tempat untuk menuangkan perihnya hati, tanpa merasa bersalah. Menjadi malu untuk mengungkapkannya. Nanti, hati tak sanggup menampung kepedihannya, dibuat bingung arahnya mau kemana.
Komentar
Posting Komentar