Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Lukisan Larakinasih

     Seorang wanita berkebaya hijau, lengkap dengan batik Parang. Duduk bagaikan seorang Ksatria martir dari dongeng-dongeng negeri Eropa. Kedua bola matanya menatap lurus kepada siapapun yang melihat lukisan dirinya. Dagunya terlihat sedikit didongakkan. Tak ada sehelai senyuman yang terlihat. Ia mamakai dua cincin. Rambut hitamnya yang di gelung dengan rapih. Sebuah meja bundar dilengkapi dengan sebuah buku yang halamannya terbuka dan ditemani lilin berwadah ukiran besi yang bercabang tiga, menambah kesan wibawa pada wanita dan lukisan ini secara keseluruhan.     Kau yang berkebaya hijau, apakah benar kau seperti apa yang diceritakan oleh lukisan ini? Atau ini hanya wadah pujian untuk si pelukis?.      Kau tak mau mengeluarkan suatu kalimat pencerah pertanyaanku. Kau justru memulai prolog suatu cerita.      Beberapa bayi membelah dirinya dari rahim wanita yang tak menyangka bahwa dirinya akan bertahan hingga usia dewasa. Kau, wani...

Kutukan Penghuni Rumah Entah Berantah

         Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, karena aku memutuskan untuk berburu dengan cuaca yang sedang berkabut. Aku gegabah mengambil suatu tindakan hanya demi menjernihkan pikiran. Memang cukup susah untuk melihat merpati-merpati itu, tak jarang aku hanya menembak angin. Tapi itu bukan berarti aku tak berhasil menembak mereka. Semakin bertambahnya hasil buruanku, semakin merah juga pipiku. Aku berpikir bahwa pada saat itu aku harus pulang, selain karena aku merasa cukup dengan hasil buruanku, aku juga merasakan angin yang bertambah dingin menembus tubuhku. Aku memasukkan tubuh-tubuh merpati yang sudah mati ke dalam karung goni yang sudah kusiapkan.     Tentu saja pada saat itu aku hanya seorang diri di padang rumput yang melintang luas. Aku berjalan tanpa bisa melihat jelas apa yang ada di hadapanku. Aku berjalan ditemani dengan kusutnya pikiran dan delusiku. Tak memedulikan apa isi dari kabut-kabut tebal ini. Mungkin saja ada monster berkep...

Sebagai Romo Yang Baik

      Pada ketikan ini mungkin aku akan terdengar seperti seorang romo yang tidak ingin mendengarkan pengakuan dari jemaatnya, namun aku bukanlah seorang romo, dan teman-temanku bukanlah sekumpulan jemaat. Aku sangat menyukai ketika seseorang datang kepadaku untuk mencurahkan isi hati mereka, rasanya seperti sebilah pedang sedang dipindahkan dari pundak kanan ke pundak kiriku oleh mereka. Aku telah diberi kehormatan dan kepercayaan untuk menyimpan rahasia dan hati mereka. Aku merasa senang mengetahui bahwa aku tidak diragukan.      Curahan hati mereka sebagian besar yaitu mengenai kisah romansa yang biasa terjadi pada kalangan remaja. Dua bulan terakhir sudah ada, kurang lebih, sepuluh orang yang melakukan 'pengakuan' kepadaku soal kisah romansa mereka. Aku menerima pengakuan mereka dengan khusyuk dan dilanjutkan dengan pandanganku sebagai orang ketiga, diikuti dengan solusi. Sebagai orang yang belum pernah menjalani hubungan yang serius dengan lawan jenis,...