Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Rasa Takut Seorang Pecundang

    Satu bulan lebih sudah terlewatkan semenjak ulang tahunku yang ke 17 tahun, dan pada siang hari tadi aku menerima Kartu Tanda Pendudukku untuk pertama kali, dan melihat wajahku yang selalu terlihat jelek di mataku. Aku tidak pernah dan akan selalu menolak pikiranku ketika otakku ini mulai menawarkan untuk menjadikan topik "Kau Sudah Dewasa, dan semuanya sudah telat" pada malam hari. Karena jika aku memikirkannya, sudah pasti tidurku tak tenang, dan bisa berujung pada kondisiku di pagi hari dengan mata yang bengkak.     Ada banyak sekali yang berada di pikiranku sekarang, tapi aku tidak mau menyebutkannya satu per satu. Karena jika aku lakukan, aku akan menyadari betapa beratnya masa-masa yang akan ku lalui. Tapi pada intinya, hal-hal yang mendominasi pikiranku saat ini adalah tanggung jawab-tanggung jawab yang akan datang ke hidupku dan sudah pasti akan membebaniku. Maksudku, memikirkannya saja sudah membuatku panik, resah, dan gelisah. Bagaimana nanti ketika har...

Keberadaanku Nanti

    Hari ini aku diminta untuk pergi berkumpul untuk persiapan suatu acara, yang di mana aku adalah salah satu panitianya. Sejujurnya, aku sangat malas menyisihkan waktuku untuk berkumpul dengan 'atasan-atasan' yang tak ku gemari. Namun, ya sudahlah kalau dipikir kembali. Mungkin aku bisa izin untuk pulang lebih awal dari pada yang lain. Pulang ke rumah dan melanjutkan aktivitasku yang kulakukan hanya seorang diri itu, di atas meja kayu cokelat, dengan buku sketsa, dan novel yang baru saja kubeli.      Dalam perjalanan menuju tempat itu, aku membangun niat untuk bergaul sembari mendengar musik yang cukup membantuku untuk mencerahkan sedikit suasana hatiku. Karena sekedar informasi saja, sudah hampir dua minggu lebih, aku hanya bergaul dengan keluargaku saja, tentunya karena sedang libur Eidul Fitri. Dan aku sangat bersyukur, setelah menjalani hari-hari yang mengiritasi ketenangan dan merontokkan pahalaku di bulan puasa bersama cecunguk yang ada di sekolah. ...

Aku Dan Suamiku.

      Dan di situlah, tubuh dinginmu yang pucat terbaring dengan tenang. Aku tak pernah melihatmu tidur setenang ini di sebelahku. Kau terlihat lebih tampan di atas peti mati sekarang, dari pada di atas pelaminan kita dahulu. Dahulu kau adalah pemuda terakhir yang akhirnya kutemukan dengan keadaan mapan dan tidak di bawah alam sadar, seperti kaummu yang lain. Tapi itulah hal yang menyedihkan, bahwa kau adalah spesies yang terakhir, dan kau masih bukan yang terbaik.     Bukannya aku ingin menjadi wanita bajingan seperti yang diceritakan kaummu, tapi ada beberapa hal dari kau yang seharusnya lebih baik. Seharusnya kalendermu dipenuhi namaku, tak perlu ada wisata kantor. Seharusnya telepon genggammu hanya dihiasi oleh seluk-beluk diriku, dan hapuslah semua permainan online bodohmu itu beserta semua sosial media yang hina. Seharusnya kau sengsara mencariku sejak kau lahir, dan ketika kita bertemu, aku bagaikan harta yang akhirnya kau temukan setelah pencarian yang m...

Musafir Amatir

Kau mengemas barangmu. Kau lipat satu-dua pakaian, tanganmu cekatan. Kau lipat lagi pakaian, keringatmu semakin deras. Kau masih melipat pakaian, tas itu tak bisa menjadi lebih besar. Berhenti! Kau mau ke mana? Di luar masih hujan deras. Nanti kau basah, tak ada yang ingin meneduhimu. Pintu kamarmu sudah kau kunci bagai sumpah. Sekarang kau hendak ke mana? Roda dari tasmu tak bisa berputar selamanya. Dan wajahmu sudah lembab sebelum terkena air hujan. Air matamu akan tetap mengalir. Di antara semua pakaian yang kau kemas, emosimu tidak berada di dalam tas konyol itu. Tas itu kosong. Semuanya kau tinggal di kamar terkunci janji. Sekarang kau mau ke mana? Tak ada tempat untuk kau bersandar di luar sana. Bukalah perlahan lipatan pakaianmu. Dan kembali tidur.