Surat Dari Tubuh Tak Ber-inang
Aku sudah menjalani sembilan bulan hidup dengan umur 16 tahun. Pada tahun ke-16 aku hidup di dunia ini, aku merasa bahwa tidak pernah ada yang benar-benar singgah pada jiwa yang dimiliki tubuh ini. Aku merasa seperti laut di tengah gunung. Temanku selalu memiliki teman lain yang lebih dekat. Aku selalu fokus pada mengembangkan potensi diriku yang mayoritas gagal berkembang. Sejujurnya, aku lelah terus mempelajari kesalahanku. Aku rasa ini sudah cukup. Saatnya aku meraih atau mendapatkan sesuatu, bukan?. Aku menyukai momen-momen di mana aku hanya berdua saja antara jiwaku dan tubuhku. Percakapan imajiner yang terjadi nyaris setiap menit. Karena dengan itu aku tak perlu bergantung pada benang dari tubuh manusia lain. Aku bebas menentukan apa yang ingin aku lakukan. Aku juga menyadari bahwa manusia tidak pernah benar-benar peduli dengan manusia lainnya sebab mereka terlalu peduli dengan diri mereka masing-masing sehingga sampai lupa untuk menilai kehadira...