Musafir Amatir

Kau mengemas barangmu.
Kau lipat satu-dua pakaian, tanganmu cekatan.
Kau lipat lagi pakaian, keringatmu semakin deras.
Kau masih melipat pakaian, tas itu tak bisa menjadi lebih besar.

Berhenti!
Kau mau ke mana?
Di luar masih hujan deras.
Nanti kau basah, tak ada yang ingin meneduhimu.

Pintu kamarmu sudah kau kunci bagai sumpah.
Sekarang kau hendak ke mana?
Roda dari tasmu tak bisa berputar selamanya.
Dan wajahmu sudah lembab sebelum terkena air hujan.

Air matamu akan tetap mengalir.
Di antara semua pakaian yang kau kemas,
emosimu tidak berada di dalam tas konyol itu.
Tas itu kosong. Semuanya kau tinggal di kamar terkunci janji.

Sekarang kau mau ke mana?
Tak ada tempat untuk kau bersandar di luar sana.
Bukalah perlahan lipatan pakaianmu.
Dan kembali tidur.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutukan Penghuni Rumah Entah Berantah

Surat Dari Tubuh Tak Ber-inang

Lukisan Untukmu