Bercerita Ini Dan Itu
Tujuanku mempunyai akun blog, selain karena permintaan mendiang Kakekku, yaitu karena aku butuh tempat untuk bercerita. Aku ingin menyampaikan pikiran-pikiranku yang dapat aku sampaikan dalam berbagai bentuk tulisan; seperti cerpen fiksi, puisi, atau bahkan aku bercerita secara langsung seperti ini. Dan ketika aku membaca ulang tulisan-tulisan ini, aku merasa senang karena aku melihat diriku hidup seperti karakter-karakter yang aku baca di buku-buku fiksiku. Tapi entah kenapa, terdapat suatu waktu di mana aku membutuhkan audiens untuk membaca blogku.
Aku benci sekali ketika menangkap basah diriku sedang mencari validasi orang lain dengan cara menceritakan hal-hal personal tentang diriku, walaupun ceritanya hanya satu paragraf. Aku merasa bahwa aku egois karena seolah-olah yang kupedulikan hanyalah diriku sendiri, lalu aku pulang ke rumah dengan suasana hati yang resah karena menyesal tidak menyampaikan apa yang sebenarnya aku rasakan. Padahal aku yakin sepertinya mereka tidak keberatan mendengar sepatah-dua patah tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ah, tapi sudahlah, sekarang semua yang kulakukan harus melewati proses pemikiran apakah langkah yang kuambil adalah sebuah langkah yang akan diambil juga oleh seorang narsistik?.
Sesederhana media sosial; akun, postingan, story, channel, bahkan blog ini, semua ini yang kulakukan itu berada dalam satu naungan yaitu tentang branding diriku, dan aku merasa sangat jijik. Ingin rasanya meminta maaf ke semua orang yang melihat story instagramku karena telah mengganggu aktivitas mereka. Aku merasa aku sedang mencari-cari karpet merah, tapi tidak ada satupun fotografer yang mengarah kepadaku. Jika melihat diriku dari sudut pandang orang lain, aku melihat diriku seperti orang aneh. Melakukan setiap tindakannya demi pujian, tapi satu lirikanpun tidak ada. Bodoh. Memalukan. Terlebih ketika aku menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada yang benar-benar peduli terhadapku. Semakin malu rasanya melihat diriku di cermin.
Beberapa hari yang lalu aku mencoba untuk mencari validasi dengan mengatakan bagian akhir puisi yang kubuat untuk ucapan ulang tahun temanku, puisi yang kubuat dengan segenap hati dan pikiran. Aku berharap orang-orang yang ada di lingkaran pembicaraan ini dapat memujiku. Ya memang, aku mendapatkan pujian, tapi ada satu orang yang suaranya dapat aku dengar dengan sangat jelas mengatakan bahwa ucapanku aneh dan menjijikan, atau disebut alay. Kalian tidak akan pernah tahu, betapa hancurnya dunia dan harga diriku saat itu juga. Membuat puisi termasuk ke dalam salah satu tujuanku untuk tetap mengekspresikan perasaanku dan hidup di dalam dunia literatur. Aku akan sangat mengapresiasi jika ia mengatakannya berbentuk kritik yang membangun dan sopan, tapi ini kebalikan dari semua itu.
Semenjak itu, aku hidup mencoba tidak menghiraukan atau mempertimbangkan perkataannya, agar aku bisa tetap menulis puisi dan cerpen. Karena konyol jika aku berhenti menulis sepenuhnya hanya karena perkataan orang tolol yang membuatku semakin tidak percaya diri. Namun, sepertinya aku akan semakin takut untuk menunjukkan hal-hal tentang diriku yang tidak banyak orang tahu. Mungkin aku cukup egois karena aku tidak mau diceramahi ketika bercerita masalah diriku. Lagi pula, cerita-ceritaku hanya akan membebani mereka. Mungkin bagian yang menyenangkannya saja yang dapat kuberi tahu, selebihnya aku akan kembali menulis di blog, berharap suatu hari tanpa disangka-sangka ada seseorang yang memperhatikan tulisan cerita-ceritaku.
Walaupun begitu, aku berterima kasih kepada teman-teman yang mau menjadi teman bercerita denganku. Aku mendengarkan ceritamu, dan kau mendengarkan ceritaku. Saling mengerti posisi satu sama lain. Aku tidak mau jika hanya aku saja yang aktif bercerita, dan kau hanya menjadi pendengar yang baik. Aku akan terlihat egois jika begitu. Kasihan dirimu.
Oh... dan sebelum aku menutup blog ini, aku ingin meminta maaf, karena aku menyadari bahwa sepertinya sebagian besar temanku merasa takut untuk bercerita denganku, sebab aku sering terlihat menceritakan kisah orang lain. Aku mengakui bersalah. Semua itu kulakukan supaya kita punya topik pembicaraan, dan obrolan kita terus berjalan. Seharusnya aku tidak usah menjual cerita orang lain. Di sisi lain, aku takut terlihat aneh jika tiba-tiba mengangkat topik umum atau nyeleneh; teori konspirasi, pendapat satu sama lain. Bagaimana jika respon yang kudapatkan adalah "Kau ini berbicara apa sih? Tidak usah aneh-aneh". Aku hanya ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan yang main hakim. Kisah yang kujual akan terjual habis, dan aku akan mendapatkan teman.
Komentar
Posting Komentar