Lukisan Larakinasih

    Seorang wanita berkebaya hijau, lengkap dengan batik Parang. Duduk bagaikan seorang Ksatria martir dari dongeng-dongeng negeri Eropa. Kedua bola matanya menatap lurus kepada siapapun yang melihat lukisan dirinya. Dagunya terlihat sedikit didongakkan. Tak ada sehelai senyuman yang terlihat. Ia mamakai dua cincin. Rambut hitamnya yang di gelung dengan rapih. Sebuah meja bundar dilengkapi dengan sebuah buku yang halamannya terbuka dan ditemani lilin berwadah ukiran besi yang bercabang tiga, menambah kesan wibawa pada wanita dan lukisan ini secara keseluruhan.

    Kau yang berkebaya hijau, apakah benar kau seperti apa yang diceritakan oleh lukisan ini? Atau ini hanya wadah pujian untuk si pelukis?. 

    Kau tak mau mengeluarkan suatu kalimat pencerah pertanyaanku. Kau justru memulai prolog suatu cerita. 

    Beberapa bayi membelah dirinya dari rahim wanita yang tak menyangka bahwa dirinya akan bertahan hingga usia dewasa. Kau, wanita yang digandeng oleh seorang pria perkasa, pemilik kuasa bumi Nusa. Dihiasinya seluk-beluk tubuhmu dengan emas dan kain sutra. Kau pun tak dapat menyanggah bahwa sebuah mutiara telah kau terima. Pria perkasa yang membawa-bawa cinta dan singgahsana. Sayang sekali, yang satu lagi tidak mau kau terima. Kau menetap tanpa membangun kasih dan membiarkan dirimu perlahan dilahap samsara.

    Kau menghirup rokok itu, berharap dia bukan suamimu.

    Kau wanita tidak bersyukur, kenapa kau membiarkan pria yang tak kau cintai, untuk membangun kerajaan di hatimu?

    Anak-anak bermahkota lahir sebagai wayang istana. Kau, wayang terindah yang dapat dimainkan oleh dalang. Tapi saat itu bukan hanya dalang yang melihatmu indah. Pria muda pemilik gubuk di dekat istanamu juga melihat demikian. Kau dan dia anak muda yang dimainkan oleh dalang yang sama. Dalang yang memainkan kasih antara dua anak naif. Pria muda yang memberimu cinta dan kasih hingga kematian memisahkan kalian. Sayang sekali, yang satu lagi tidak bisa kau terima. Kau pergi dan meninggalkan pria muda yang malang itu bersama tanda tanya.

    Kau menghirup rokok itu sekali lagi, berharap dialah suamimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutukan Penghuni Rumah Entah Berantah

Surat Dari Tubuh Tak Ber-inang

Lukisan Untukmu