Filosofi Pisang
Hal-hal tidak masuk akal yang terjadi pada kehidupanku memang sering terjadi, tapi bukan berarti hal yang masuk akal tidak pernah terjadi. Beberapa bulan ini aku secara perlahan mulai terbiasa dan beradaptasi dengan ke-absurdan masyarakat. Aku seperti anak indigo yang sedang membiasakan diri hidup berdampingan dengan hantu. Aku menelaah faktor dari segala faktor yang menyebabkan suatu tindakan manusia agar semua ini masuk akal untukku, dan agar aku dapat mengerti sudut pandang mereka. Namun, dari semua hal-hal yang mulai masuk akal, hanya satu hal yang membuatku tak perlu menelaah lebih dalam faktor dari tindakan manusia tersebut.
Suatu pagi yang tidak spesial di hari Sekolah, aku berangkat dengan ojek online dan dengan pemandangan yang sama. Selalu melewati beberapa lampu merah, bertemu siswa dari sekolah lain yang berangkat pada jam yang sama, klakson di mana-mana, dan melewati truk hitam kecil yang menjual pisang. Truk itu parkir di pinggir jalan yang padat akan kendaraan, pisang-pisang yang dijual oleh mereka terpajang cukup banyak. Sehingga, Pisang-pisang tersebut memenuhi setiap sisi bagian belakang truk, bahkan digantung pada bagian atap truk. Terdapat pisang yang segar, namun ada juga pisang yang menunjukan umurnya.
Aku melewati truk itu seperti pagi-pagi sebelumnya. Karena 'istana pisang' itu sangat memancing perhatian, aku selalu menolehkan mataku kearah truk pisang yang baru saja memulai penjualannya, dan aku melihat penjual pisang tersebut sedang memakan salah satu pisang yang ia jual, dengan nikmat. Entah kenapa, hal itu adalah hal yang paling masuk akal yang pernah kulihat diantara hal-hal logis lain yang pernah terjadi dalam hidupku. Seorang pedagang yang mengkonsumsi dagangannya sendiri. Ya, mengapa hal yang se-sederhana ini tidak terpikirkan olehku. Alih-alih aku memikirkan hal lain, yang sebenarnya, tidak harus selalu dimengerti.
"Lah, iya juga ya". Aku berkata dalam hati, sembari melewati penjual pisang itu.
Penjual beserta pisang itu sepertinya cukup menoreh senyuman pada wajahku di pagi itu. Dan dengan cara yang aneh, telah melihatkanku perspektif lain.
Komentar
Posting Komentar