Jingga Keemasan

     Aku bangun dari tidurku, sekelilingku gelap. 
    Dinding-dinding yang dingin.
    Suara tetesan air yang bergema.
    Lalu kembali tidur, dan bangun dengan kondisi yang sama.

     Purnama terus silih berganti.
    Aku kenal dengan semua kelelawar tak bernama.
    Mataku sudah berdamai dengan gelapnya gelap.
    Tubuhku semakin akrab dengan dingin.

    Namun, ruang berbatu ini memperkenalkan elemen baru.
    Sesuatu tembus pandang yang berwarna jingga keemasan.
    Menyingkap kain-kain gelap ruang berbatu ini.
    Kulitku seperti meleleh.

    Aku pertama kali melihat embun yang memancarkan pelangi.
    Kelelawar tertidur dengan sangat nyenyak, sunyi.
    Sesuatu apa ini?.
    Aku tak ingin ini hilang.

    Elemen baru ini, yang memperlihatkanku pada warna hijau diantara batu-batu dingin.
    Yang menunjukkan refleksiku pada genangan air.
    Yang menggerakkan hewan-hewan kecil ke tujuannya.
    Yang membawaku keluar dari Gua ini.

    Jangan biarkan aku kembali ke tempat gelap itu.
    Jangan biarkan aku tidur di antara batu yang dingin.
    Jangan biarkan aku dikelilingi oleh Kelelawar.
    Jangan biarkan aku sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutukan Penghuni Rumah Entah Berantah

Lukisan Untukmu

Surat Dari Tubuh Tak Ber-inang