Aku Dan Suamiku.

     Dan di situlah, tubuh dinginmu yang pucat terbaring dengan tenang. Aku tak pernah melihatmu tidur setenang ini di sebelahku. Kau terlihat lebih tampan di atas peti mati sekarang, dari pada di atas pelaminan kita dahulu. Dahulu kau adalah pemuda terakhir yang akhirnya kutemukan dengan keadaan mapan dan tidak di bawah alam sadar, seperti kaummu yang lain. Tapi itulah hal yang menyedihkan, bahwa kau adalah spesies yang terakhir, dan kau masih bukan yang terbaik.

    Bukannya aku ingin menjadi wanita bajingan seperti yang diceritakan kaummu, tapi ada beberapa hal dari kau yang seharusnya lebih baik. Seharusnya kalendermu dipenuhi namaku, tak perlu ada wisata kantor. Seharusnya telepon genggammu hanya dihiasi oleh seluk-beluk diriku, dan hapuslah semua permainan online bodohmu itu beserta semua sosial media yang hina. Seharusnya kau sengsara mencariku sejak kau lahir, dan ketika kita bertemu, aku bagaikan harta yang akhirnya kau temukan setelah pencarian yang milenia. Seharusnya duniamu hanya aku dan cuman aku. Rumahmu bukan dinding dan pintu, tapi tubuh dan mataku.

    Sayang sekali, kau adalah versi terbaik. Inikah yang terbaik?. Bagaimana dengan sosok siluet yang meghantui pikiranku sejak aku masih anak kecil?. Dia adalah pria yang selama hidupnya mengisi rongga-rongga jarinya dengan jariku dan hanya jariku. Dia selalu memasak sarapan, dan mencium keningku untuk membangunkanku. Hanya buku-buku tua yang menghiasi kamar kita, dan entah bagaimana caranya aku merasa dicintai. Ia membaca buku dengan satu tangan memegang buku, dan satunya memegang tanganku. Setiap jalan yang kita lalui diiringi obrolan yang tak mau berhenti dan tangan yang tak mau dipisah. Rumah kami tak dipenuhi sisa-sisa sejarah misogini. Perintah bagai diktator tidak akan pernah bergema di lorong-lorong rumah ini. 

    Kerabat kami tidak ada yang tahu kabar kami setelah menikah, tapi dunia kami hanya keberadaan satu sama lain. Kami berdua tidak berada di bawah bayang-bayang sosial media. Orang lain hanyalah orang lain. Kami melukis figur satu sama lain. Kami menulis tentang satu sama lain. Kami memasak untuk satu sama lain. Orang lain tak perlu tahu. Seketika rambut kami telah menjadi putih indah. Rambutnya bagaikan bintang di malam hari. Selama kita menua, ia tak pernah mengatakan satu helaipun tentang fisikku. Ia menyayangi kerutan wajahku. Hatimu lahir dan hanya menyimpan namaku. Dan kau akan mati masih menggenggam namaku, dan tubuhku dipeluk erat seolah aku adalah tuhanmu. 

    Tapi itu masalahnya, kau tak pernah lahir dan tidak bisa mati. Kau hanya siluet yang kubuat ditengah zaman lahirnya pemuda brengsek. Kau adalah semuanya yang tidak pernah dilakukan suamiku yang sekarang sudah terlanjur mati ini. Dia sudah mati dan aku masih ingat bagaimana aku di dapur sendirian memasak makanan untuk kita berdua. Aku masih ingat ia hanya bermain dengan telepon geggamnya ketika aku sedang membaca buku tua favoritku. Aku masih ingat ketika dia memuji-mujiku, namun ketika bersama temannya, aku adalah topik utama leluconnya. Ingat, dialah versi terbaik dari kaumnya. 

    Kepadaku, suamiku berkata "Kau adalah wanita tercantik di dunia." 

    Tapi kepadaku, kau berkata "Kau adalah wanita tercantik di duniaku". 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutukan Penghuni Rumah Entah Berantah

Surat Dari Tubuh Tak Ber-inang

Lukisan Untukmu