Percakapan Imajiner
Aneh rasanya ketika menangkap diriku enggan untuk pergi ke Bioskop seorang diri. Biasanya aku selalu senang ketika diberi kesempatan untuk berpergian jauh sendiri. Aku sudah terbiasa melakukan apapun hanya dengan diri sendiri. Orang lain adalah orang lain, aku hanya bersama pikiranku yang berdialog pada setiap pergerakkanku. Setiap langkah tercipta obrolan imajiner dengan entah siapa, aku seperti menciptakan sosok manusia lain khusus untuk mengajakku berbicara di dalam kepalaku.
Tapi kali ini.. kali ini aku tidak mau melakukan itu. Sudah jarang sekali manusia buatanku ini menampakkan dirinya di dalam pikiran-ku. Percakapan-percakapan imajinerku ini sekarang sudah memiliki nama dan rupa. Nama dan rupa yang nyata berjalan di atas permukaan bumi ini. Aku membayangkan percakapan kami berlatar belakang di penjual kaki lima yang memberi tempat untuk makan di pinggir jalan. Kendaraan-kendaraan menjadi musik latar belakang pembicaraan kami. Lebih baik lagi jika ada seorang pengamen yang datang.
Seluruh percakapan terstruktur dengan rapih. Kalimat demi kalimat. Kata demi kata. Gerakan demi gerakan. Bahkan seluruh seluk beluk bahasa tubuhmu. Dari satu topik ke topik yang lain bertransisi dengan penuh kesenangan. Aku membayangkan dirimu merasa asik dengan percakapan ini. Apa lagi aku. Hidangan di hadapan kami nyaris tersentuh karena percakapan kami berjalan sangat seru. Tawa dibalas tawa. Tak cukup sampai di situ, kami melanjutkan obrolan yang sudah kami bangun dalam perjalanan pulang. Walau cukup membahayakan ketika kamu bercanda dengan stir motormu itu.
Dan semua itu terjadi di dalam kepalaku. Aku jadi takut sendirian, sebab aku jadi sadar bahwa percakapan yang ada di dalam kepalaku ini hanya sebuah karangan yang kuciptakan demi kebahagiaanku sendiri. Ditambah, manusia itu bukan kamu. Aku ingin kamu sebagai manusia asli, yang tubuhnya mempunyai bayangan. Yang dapat menggerakan mulutku untuk membalas perkataanmu. Dan kamu membalas perkataanku.
Komentar
Posting Komentar