Tanda Tanya Telah Terjawab
Empat minggu telah terlewati semenjak aku mendengar bahwa kabarmu sedang dekat dengan seorang perempuan. Jujur ketika aku mendengar kabar tersebut, aku tidak cemburu dengan siapapun itu yang sedang kau dekati. Perasaanku saat itu yaitu perasaan lega, seolah-olah tali tambang diikatkan dengan kencang di dadaku sedang melepaskan dirinya perlahan-lahan. Akhirnya, itu berarti mulai saat itu aku tak perlu berpikir berlebihan, yang dapat mengganggu jadwal tidurku, memikirkan apakah hal-hal kecil yang kamu lakukan apakah tindakan untuk dekat denganku atau hanya hak asasi manusia dasar.
Aku tak perlu memikirkan; apakah kamu sedang mendekatiku ketika kita saling mengunci bola mata di tengah kerumunan. Apakah kamu sedang mendekatiku ketika kamu bercanda memegang tanganku padahal sebenarnya kamu ingin memegang tangan temanmu yang berdiri di sebelahku. Apakah kamu sedang mendekatiku ketika kamu terlihat sangat antusias sekali bercerita tentang kehidupanmu kepadaku. Apakah kamu sedang mendekatiku ketika kamu tertawa pada leluconku. Apakah kamu sedang mendekatiku ketika kamu memulai lelucon denganku. Apakah kamu sedang mendekatiku ketika kamu menitipkan telephone genggammu kepadaku.
Apakah kamu sedang mendekatiku, ketika kamu mengancam untuk meninju wajahku?.
Aku sekarang tidak perlu repot-repot cari berbagai cara untuk berinteraksi denganmu. Cara agar setidaknya kamu melirik kepadaku. Cara agar setidaknya kamu bisa menganggapku sebagai teman lamamu. Semua yang telah kulakukan selama nyaris empat tahun. Toh, sekarang kamu sudah memiliki perempuan. Mau aku jungkir balikpun, jika bukan aku, maka ya tidak. Aku melihat ke masa-masa itu, dan baru menyadari betapa lelahnya melakukan 1000 tindakan yang menunjukkan rasa kasih kepadamu, yang tidak berbuah sama sekali, bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di bawah instansi. Menurutku tidak sia-sia. Aku tidak merasa membuang waktu sama sekali. Aku senang mencari-cari celah untuk dekat denganmu. Walaupun celah itu tak jarang cahayanya tak pernah terlihat.
Aku jadi penasaran, apakah kamu benar-benar tidak menyadari gestur-gestur yang kulakukan? Atau kamu sebenarnya sadar, namun mengabaikannya. Mengingat betapa banyak perempuan yang ingin memilikimu juga. Mungkin apa yang kulakukan hanyalah hari biasa yang terlewat bagimu.
...
Semenjak acara itu, aku menjalani hariku dengan tali tambang yang hampir melepas semua belenggunya. Semakin hari, wajahmu semakin memudar. Bahkan terdapat hari di mana aku tidak memikirkanmu sama sekali selama 23 jam. Aneh rasanya. Itupun ketika aku ingat akan dirimu, rasanya seperti melihat sesuatu yang tak tergapai. Ta akan tergapai. Kamu telah tinggal di inti jantungku, tapi kamu adalah sesuatu yang pergi. Aku tidak merasa seperti melepaskan seseorang, aku seperti melepaskan suatu ide, suatu kesempatan untuk mendapatkan apa yang langka selama ini.
Aneh, aku berbicara tentang dirimu seperti kamu adalah mantan kekasihku. Padahal suatu hubungan di antara kita saja tak pernah terpikirkan oleh siapapun, kecuali diriku sendiri. Dan kamu hidup, hidup seperti biasa. Normal. Posisiku di pikiranmu berada di palung terdalam yang pernah ada di otakmu. Aku hanya akan menjadi angin lewat bagimu. Padahal aku sudah membangun kerajaan untuk kasih ini.
Kerajaan itu mulai terbengkalai. Aku mengevakuasi kasih ini, menentengnya untuk menetap sementara di telapak tanganku. Kasih yang kehilangan rumahnya. Menjadi lupa akan pengertian dapur, ruang tamu, kamar tidur. Aku tidak lagi punya kasih. Tak melabuhkannya pada pelabuhan manapun.
Aku perlahan lupa rasanya memiliki rasa kasih kepada lawan jenis. Bagaimana rasanya memiliki seseorang yang membuatmu semangat setiap hari? Rasanya berbunga-bunga di perut? Rasa ingin melakukan yang terbaik kepada orang yang kamu kasihi?. Semua ingatan manis tentang masa-masa manis ini mulai hilang di pikiranku. Dan jika ada beberapa ingatan yang masih tersisa, aku melihat diriku sendiri seperti orang tolol. Semua cerita romansa teman-temanku terdengar bodoh dan goblok. Setidaknya IQ-ku bertambah satu ketika mendengar cerita mereka. Sepah telah kubuang.
Kamu hebat sekali. Kamu hidup saja sudah membuat seseorang menganggapmu sangat spesial. Padahal kamu tidak pernah melakukan atau memberikan sebuah permata dari gunung Everest. Yang kamu lakukan hanya menjadi rekan 'kerja'. Keberadaanmu benar-benar ajaib.
Komentar
Posting Komentar