Keberadaanku Nanti

    Hari ini aku diminta untuk pergi berkumpul untuk persiapan suatu acara, yang di mana aku adalah salah satu panitianya. Sejujurnya, aku sangat malas menyisihkan waktuku untuk berkumpul dengan 'atasan-atasan' yang tak ku gemari. Namun, ya sudahlah kalau dipikir kembali. Mungkin aku bisa izin untuk pulang lebih awal dari pada yang lain. Pulang ke rumah dan melanjutkan aktivitasku yang kulakukan hanya seorang diri itu, di atas meja kayu cokelat, dengan buku sketsa, dan novel yang baru saja kubeli. 

    Dalam perjalanan menuju tempat itu, aku membangun niat untuk bergaul sembari mendengar musik yang cukup membantuku untuk mencerahkan sedikit suasana hatiku. Karena sekedar informasi saja, sudah hampir dua minggu lebih, aku hanya bergaul dengan keluargaku saja, tentunya karena sedang libur Eidul Fitri. Dan aku sangat bersyukur, setelah menjalani hari-hari yang mengiritasi ketenangan dan merontokkan pahalaku di bulan puasa bersama cecunguk yang ada di sekolah.

    Aku sampai di tempat yang sudah ditentukan, aku berterima kasih kepada supir ojek online yang mengantarku, lalu aku berjalan masuk melalui pagar yang sudah dihinggapi oleh salah satu 'atasan' panitia. "Baiklah, mari kita mulai menjadi diriku yang orang lain kenal", aku berkata dalam hati. Sejujurnya, ada satu wajah yang aku tebak-tebak keberadaannya di rapat ini. Namun, menyebutkan namanya saja rasanya sudah sangat keramat bagiku. Tidak, tidak. Sudah berapa kali aku berekspektasi dirinya akan datang pada pertemuan yang dulu-dulu, dan dia selalu mengecewakanku. Bodoh jika aku mengulangi kesalahan yang sama.

    Pintu dari ruangan rapat tersebut kubuka perlahan, karena aku malu. Dan betapa senangnya hatiku, ketika aku melihat, wajah yang sudah terbayang-bayang dari tadi, sekarang berada persis di depanku. Wajah beserta tubuhnya. Hanya gagang pintu yang tahu betapa berubahnya suasana hatiku. Aku kembali melanjutkan pijakan kakiku untuk masuk lebih ke dalam ruangan itu. Menyapa atasanku satu per satu, dan langsung duduk di sebelahnya (karena hanya itu tempat yang kosong). Mataku tak henti-hentinya mencuri beberapa lirikan. 

    Tak sadar tubuhku sekarang sudah semakin menyerong ke arahnya... dan temannya yang berada persis di sebelahnya juga. Melontarkan beberapa basa-basi dan menceritakan pengalaman lucuku yang terjadi akhir-akhir ini. Dia tertawa. Satu medali rasanya sudah dikalungkan di leherku. Aku senang sekali melihatmu tertawa. Matamu nyaris menghilang, dan gigi renggangmu yang terlihat. Senyum dan tawamu seperti permen strawberry. Tak lama dari itu, kau membeli es susu cokelat. Seketika aku kembali teringat yang dulu-dulu, aku ingat ketika aku berhasil menebak bahwa kau suka cokelat, karena ketika ada pedagang es krim, kau selalu membeli es krim rasa cokelat. 

    Aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Aku pikir kau akan pulang lebih dulu, mengingat kau tak suka bergaul. Aku selalu kecewa ketika kau memberi tahu bahwa kau akan pulang lebih cepat, sementara teman-teman yang lain sedang asyik-asyiknya. Aku ingin sekali rasanya melanjutkan minggu-minggu berikutnya seperti ini. Setiap kegiatan yang kami lakukan di rapat tersebut, aku ingin sekali berada di waktu yang sama denganmu. Aku selalu mencari-cari topik apa yang sekiranya menarik untuk kami perbincangkan tanpa terlihat bahwa aku ada maksud tersembunyi, sampai lupa bahwa aku di sini sedang 'bekerja'.

    Tapi sayangnya, setiap tindakan yang kulakukan untuk mendapatkan sedikit saja perhatian dari hatinya, berakhir dengan diriku yang kembali ke realita. Mungkin dahulu ketika kita sering bertemu, aku masih percaya bahwa kita bisa 'terjadi' sehingga setiap upaya rasanya tidak sia-sia. Namun sekarang, aku sudah berpikir bahwa, apapun upayaku, entah itu menaiki gunung Everest, atau melawan Gatot Kaca, jika dia bukan jodohku, maka semua ini sudah pasti sia-sia. Dan yang tersisa hanyalah diriku yang terlihat bodoh.

    Bodoh seakan-akan aku mengemis-ngemis meminta waktumu, walaupun cuma sepeser. Untuk apa aku membuatmu memuji prestasiku di masa lalu, jika nanti akan ada wanita lain yang akan kau puji bukan karena prestasinya, tapi karena dia adalah makhluk ciptaan terindah tuhan yang telah menangkap segenap jiwamu. Untuk apa aku membuatmu tertawa dengan lelucon yang sudah ku struktur sedemikian mungkin, jika nanti ada wanita lain yang akan membuatmu tertawa hanya karena dirinya terlihat menggemaskan ketika sedang tertawa. 

    Wanita yang sudah disiapkan oleh tuhan untuk menjadi pasanganmu hingga berambut putih nanti sangat beruntung memilikimu ya, padahal kalian pun sepertinya belum menemukan satu sama lain. Aku ingin sekali hadir di acara pernikahan kalian, tanpa niat buruk sedikitpun tentunya, sungguh-sungguh hanya untuk memberikan pengantin wanitamu sebuah piala emas dan selembar sertifikat, karena telah mendapatkan manusia unik yang sekarang berada di sebelahnya. Lalu aku turun dari panggung ajaib itu, dan mulai mengantre di Stand Zuppa Soup yang telah disediakan di acara kalian.

    Mungkin mengantre bersama lelaki yang nantinya akan menikahiku juga. Mungkin. Dengan kemungkinan yang sangat amat kecil. Kau mungkin akan terlihat sangat bahagia, dan istrimu akan terlihat lebih bahagia karena memilikimu. Orang-orang sibuk mondar-mandir mencari makanan lezat, mencari kerabat yang mereka kenal. Bahkan aku rasa, organisasi kita akan berkumpul kembali dan mengubah pernikahanmu menjadi acara reuni. Aku duduk di kursi yang tidak menyediakan meja, yang membuat pengalaman makanku kurang nyaman. Ditemani live music yang memainkan lagu romansa penuh beat. Kau pada akhirnya akan menikahi wanita lain, begitu pula keberadaanku dalam alur hidupmu yang akan hanya menjadi wanita lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kutukan Penghuni Rumah Entah Berantah

Surat Dari Tubuh Tak Ber-inang

Lukisan Untukmu