Postingan

Persetan Kamu

      Ini sangat amat membunuhku. Fakta bahwa aku sedang menyukai seseorang namun aku tidak bisa melakukan apapun dengan rasa suka ini. Aku tidak bisa mendekatinya, aku tidak bisa memilikinya, aku tidak bisa dekat dengannya. Dan satu topik utama untuk dirinya adalah aku takut dia merasa risih dengan diriku. Aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan perasaan ini. Kalaupun kami memiliki hubungan yang resmi, pada akhirnya kami akan berakhir dengan perpisahan. Perpisahan yang sebenarnya kami berdua sudah tahu akan terjadi dalam hitungan menit. Kami berdua sudah tahu bahwa akhir dari hubungan ini adalah perpisahan mutlak yang terjadi karena *****.     Tapi itulah masalahnya. Aku tahu semua pendekatan untuk memilikimu adalah sia-sia. Dan salah satu hal yang paling kubenci di dunia ini adalah orang-orang yang membuang waktuku. Mendekati dan mencintaimu adalah salah satu hal yang membuang waktuku. Tapi sekali lagi, itulah masalahnya. Aku ingin selalu mendekatimu. Sat...

Percakapan Imajiner

       Aneh rasanya ketika menangkap diriku enggan untuk pergi ke Bioskop seorang diri. Biasanya aku selalu senang ketika diberi kesempatan untuk berpergian jauh sendiri. Aku sudah terbiasa melakukan apapun hanya dengan diri sendiri. Orang lain adalah orang lain, aku hanya bersama pikiranku yang berdialog pada setiap pergerakkanku. Setiap langkah tercipta obrolan imajiner dengan entah siapa, aku seperti menciptakan sosok manusia lain khusus untuk mengajakku berbicara di dalam kepalaku.     Tapi kali ini.. kali ini aku tidak mau melakukan itu. Sudah jarang sekali manusia buatanku ini menampakkan dirinya di dalam pikiran-ku. Percakapan-percakapan imajinerku ini sekarang sudah memiliki nama dan rupa. Nama dan rupa yang nyata berjalan di atas permukaan bumi ini. Aku membayangkan percakapan kami berlatar belakang di penjual kaki lima yang memberi tempat untuk makan di pinggir jalan. Kendaraan-kendaraan menjadi musik latar belakang pembicaraan kami. Lebih baik la...

Seharusnya Tanpa Ada Yang Salah Dengan Itu

Saya sadar, bahwa jika saya mengatakan "Saya Mencintaimu" adalah sebuah kesalahan besar, dan juga gerbang dari segala petaka. Tapi ketahuilah, bahwa ini hanya sebuah perasaan,  yang seharusnya tidak menyakitimu, tidak juga saya. Percayalah, bahwa saya hanya ingin dicintai.  Saya adalah manusia yang diizinkan Tuhan untuk hidup tanpa alasan yang jelas, dan saya hanya ingin mencintaimu. Seharusnya tanpa ada yang salah dengan itu.  Namun, mencintaimu telah membuatku merasa seperti seorang kriminal yang sewaktu-waktu akan ditangkap.  Ketahuilah, kejahatan yang saya lakukan hanya mencintaimu.  Saya berhasil membuktikan bahwa saya juga punya hati. Saya memiliki perasaan. Yang seharusnya tanpa ada yang salah dengan itu. Namun, Saya mencintaimu. Jakarta, 30 Agustus 2026.

Jingga Keemasan

     Aku bangun dari tidurku, sekelilingku gelap.       Dinding-dinding yang dingin.     Suara tetesan air yang bergema.     Lalu kembali tidur, dan bangun dengan kondisi yang sama.     Purnama terus silih berganti.     Aku kenal dengan semua kelelawar tak bernama.     Mataku sudah berdamai dengan gelapnya gelap.     Tubuhku semakin akrab dengan dingin.     Namun, ruang berbatu ini memperkenalkan elemen baru.     Sesuatu tembus pandang yang berwarna jingga keemasan.     Menyingkap kain-kain gelap ruang berbatu ini.     Kulitku seperti meleleh.     Aku pertama kali melihat embun yang memancarkan pelangi.     Kelelawar tertidur dengan sangat nyenyak, sunyi.     Sesuatu apa ini?.     Aku tak ingin ini pergi.     Elemen baru ini, yang memperlihatkanku pada warna hijau diantara batu-batu dingin.     ...

Mengatasi Rasa Cemas

      Sejujurnya aku ingin sekali bercerita tentang kekhawatiranku akhir-akhir ini, tapi aku takut jika menceritakannya terus menerus justru membuat tidurku tidak nyenyak dan gelisah, seperti yang sudah-sudah.. Oh ya tuhan.. kalian tidak akan tahu seberapa mengerikannya malam itu, malam ketika aku mencapai puncak overthingking-ku. Bahkan untuk menceritakannya kembali dan mengingatnya lagi rasanya mengerikan. Jadi sekarang, demi kesehatan mental dan pikiranku, aku lebih memilih untuk menceritakan keseharianku pada liburan semester ini, yang di mana aku tidak liburan sama sekali, dan aku hanya akan menceritakan hal-hal yang ternyata membuatku tenang.     ***     Selama dua hari yang lalu aku tidur di kamar Eyang. Aku memutuskan untuk tidur di kamar Eyang karena kegelisahan yang kualami pada hari-hari yang lalu. Rasanya, kamar Eyang adalah tempat yang cocok untuk aku mencari suasana yang baru. Eyang tidur di sisi sebelah kanan kasur, sisi di mana Eyang pa...

Tanda Tanya Telah Terjawab

      Empat minggu telah terlewati semenjak aku mendengar bahwa kabarmu sedang dekat dengan seorang perempuan. Jujur ketika aku mendengar kabar tersebut, aku tidak cemburu dengan siapapun itu yang sedang kau dekati. Perasaanku saat itu yaitu perasaan lega, seolah-olah tali tambang diikatkan dengan kencang di dadaku sedang melepaskan dirinya perlahan-lahan. Akhirnya, itu berarti mulai saat itu aku tak perlu berpikir berlebihan, yang dapat mengganggu jadwal tidurku, memikirkan apakah hal-hal kecil yang kamu lakukan apakah tindakan untuk dekat denganku atau hanya  hak asasi manusia dasar.     Aku tak perlu memikirkan; apakah kamu sedang mendekatiku ketika kita saling mengunci bola mata di tengah kerumunan. A pakah kamu sedang mendekatiku ketika kamu bercanda memegang tanganku padahal sebenarnya kamu ingin memegang tangan temanmu yang berdiri di sebelahku. Apakah kamu sedang mendekatiku ketika kamu terlihat sangat antusias sekali bercerita tentang kehidupanmu k...

Aku Hanya Berada Di Situ

      Obrolan malam hari bersama teman, di mana salah satu dari kami akan mengungkapkan sebuah pendapat atau fakta mengenai satu sama lain yang sebelumnya belum pernah kami dengar, adalah tipe obrolan yang menurutku sangat berkesan. Biasanya, obrolan seperti ini akan membekas di pikiranku untuk, entah berapa windu lamanya. Ada banyak obrolan seperti ini yang berkesan bagiku, yang membekas hingga sekarang dan nanti. Salah satunya adalah yang terjadi sekitar satu bulan yang lalu, saat aku menginap di rumah temanku.     Malam sudah larut. Hampir semua makhluk sudah mematikan mata lampunya. Hanya aku dan dua temanku melawan ketenangan malam itu. Aku duduk di lantai, dengan iPad dan pensil ajaibnya menggambar sebuah potret wanita, yang sudah menjadi kebiasaanku ketika disuguhkan dengan media dan bahannya. Dua temanku berbaring dan duduk di kasur. Semakin larut, semakin menyelam ke lubuk pribadi. Bercerita ini dan itu. Tak sadar, topik sudah berpindah ke masalah perci...