Postingan

Tanda Tanya Telah Terjawab

      Empat minggu telah terlewati semenjak aku mendengar bahwa kabarmu sedang dekat dengan seorang perempuan. Jujur ketika aku mendengar kabar tersebut, aku tidak cemburu dengan siapapun itu yang sedang kau dekati. Perasaanku saat itu yaitu perasaan lega, seolah-olah tali tambang diikatkan dengan kencang di dadaku sedang melepaskan dirinya perlahan-lahan. Akhirnya, itu berarti mulai saat itu aku tak perlu berpikir berlebihan, yang dapat mengganggu jadwal tidurku, memikirkan apakah hal-hal kecil yang kamu lakukan apakah tindakan untuk dekat denganku atau hanya  hak asasi manusia dasar.     Aku tak perlu memikirkan; apakah kamu sedang mendekatiku ketika kita saling mengunci bola mata di tengah kerumunan. A pakah kamu sedang mendekatiku ketika kamu bercanda memegang tanganku padahal sebenarnya kamu ingin memegang tangan temanmu yang berdiri di sebelahku. Apakah kamu sedang mendekatiku ketika kamu terlihat sangat antusias sekali bercerita tentang kehidupanmu k...

Aku Hanya Berada Di Situ

      Obrolan malam hari bersama teman, di mana salah satu dari kami akan mengungkapkan sebuah pendapat atau fakta mengenai satu sama lain yang sebelumnya belum pernah kami dengar, adalah tipe obrolan yang menurutku sangat berkesan. Biasanya, obrolan seperti ini akan membekas di pikiranku untuk, entah berapa windu lamanya. Ada banyak obrolan seperti ini yang berkesan bagiku, yang membekas hingga sekarang dan nanti. Salah satunya adalah yang terjadi sekitar satu bulan yang lalu, saat aku menginap di rumah temanku.     Malam sudah larut. Hampir semua makhluk sudah mematikan mata lampunya. Hanya aku dan dua temanku melawan ketenangan malam itu. Aku duduk di lantai, dengan iPad dan pensil ajaibnya menggambar sebuah potret wanita, yang sudah menjadi kebiasaanku ketika disuguhkan dengan media dan bahannya. Dua temanku berbaring dan duduk di kasur. Semakin larut, semakin menyelam ke lubuk pribadi. Bercerita ini dan itu. Tak sadar, topik sudah berpindah ke masalah perci...

Bercerita Ini Dan Itu

      Tujuanku mempunyai akun blog, selain karena permintaan mendiang Kakekku, yaitu karena aku butuh tempat untuk bercerita. Aku ingin menyampaikan pikiran-pikiranku yang dapat aku sampaikan dalam berbagai bentuk tulisan; seperti cerpen fiksi, puisi, atau bahkan aku bercerita secara langsung seperti ini. Dan ketika aku membaca ulang tulisan-tulisan ini, aku merasa senang karena aku melihat diriku hidup seperti karakter-karakter yang aku baca di buku-buku fiksiku. Tapi entah kenapa, terdapat suatu waktu di mana aku membutuhkan audiens untuk membaca blogku.       Aku benci sekali ketika menangkap basah diriku sedang mencari validasi orang lain dengan cara menceritakan hal-hal personal tentang diriku, walaupun ceritanya hanya satu paragraf. Aku merasa bahwa aku egois karena seolah-olah yang kupedulikan hanyalah diriku sendiri, lalu aku pulang ke rumah dengan suasana hati yang resah karena menyesal tidak menyampaikan apa yang sebenarnya aku rasakan. Padah...

Rasa Takut Seorang Pecundang

    Satu bulan lebih sudah terlewatkan semenjak ulang tahunku yang ke 17 tahun, dan pada siang hari tadi aku menerima Kartu Tanda Pendudukku untuk pertama kali, dan melihat wajahku yang selalu terlihat jelek di mataku. Aku tidak pernah dan akan selalu menolak pikiranku ketika otakku ini mulai menawarkan untuk menjadikan topik "Kau Sudah Dewasa, dan semuanya sudah telat" pada malam hari. Karena jika aku memikirkannya, sudah pasti tidurku tak tenang, dan bisa berujung pada kondisiku di pagi hari dengan mata yang bengkak.     Ada banyak sekali yang berada di pikiranku sekarang, tapi aku tidak mau menyebutkannya satu per satu. Karena jika aku lakukan, aku akan menyadari betapa beratnya masa-masa yang akan ku lalui. Tapi pada intinya, hal-hal yang mendominasi pikiranku saat ini adalah tanggung jawab-tanggung jawab yang akan datang ke hidupku dan sudah pasti akan membebaniku. Maksudku, memikirkannya saja sudah membuatku panik, resah, dan gelisah. Bagaimana nanti ketika har...

Keberadaanku Nanti

    Hari ini aku diminta untuk pergi berkumpul untuk persiapan suatu acara, yang di mana aku adalah salah satu panitianya. Sejujurnya, aku sangat malas menyisihkan waktuku untuk berkumpul dengan 'atasan-atasan' yang tak ku gemari. Namun, ya sudahlah kalau dipikir kembali. Mungkin aku bisa izin untuk pulang lebih awal dari pada yang lain. Pulang ke rumah dan melanjutkan aktivitasku yang kulakukan hanya seorang diri itu, di atas meja kayu cokelat, dengan buku sketsa, dan novel yang baru saja kubeli.      Dalam perjalanan menuju tempat itu, aku membangun niat untuk bergaul sembari mendengar musik yang cukup membantuku untuk mencerahkan sedikit suasana hatiku. Karena sekedar informasi saja, sudah hampir dua minggu lebih, aku hanya bergaul dengan keluargaku saja, tentunya karena sedang libur Eidul Fitri. Dan aku sangat bersyukur, setelah menjalani hari-hari yang mengiritasi ketenangan dan merontokkan pahalaku di bulan puasa bersama cecunguk yang ada di sekolah. ...

Aku Dan Suamiku.

      Dan di situlah, tubuh dinginmu yang pucat terbaring dengan tenang. Aku tak pernah melihatmu tidur setenang ini di sebelahku. Kau terlihat lebih tampan di atas peti mati sekarang, dari pada di atas pelaminan kita dahulu. Dahulu kau adalah pemuda terakhir yang akhirnya kutemukan dengan keadaan mapan dan tidak di bawah alam sadar, seperti kaummu yang lain. Tapi itulah hal yang menyedihkan, bahwa kau adalah spesies yang terakhir, dan kau masih bukan yang terbaik.     Bukannya aku ingin menjadi wanita bajingan seperti yang diceritakan kaummu, tapi ada beberapa hal dari kau yang seharusnya lebih baik. Seharusnya kalendermu dipenuhi namaku, tak perlu ada wisata kantor. Seharusnya telepon genggammu hanya dihiasi oleh seluk-beluk diriku, dan hapuslah semua permainan online bodohmu itu beserta semua sosial media yang hina. Seharusnya kau sengsara mencariku sejak kau lahir, dan ketika kita bertemu, aku bagaikan harta yang akhirnya kau temukan setelah pencarian yang m...

Musafir Amatir

Kau mengemas barangmu. Kau lipat satu-dua pakaian, tanganmu cekatan. Kau lipat lagi pakaian, keringatmu semakin deras. Kau masih melipat pakaian, tas itu tak bisa menjadi lebih besar. Berhenti! Kau mau ke mana? Di luar masih hujan deras. Nanti kau basah, tak ada yang ingin meneduhimu. Pintu kamarmu sudah kau kunci bagai sumpah. Sekarang kau hendak ke mana? Roda dari tasmu tak bisa berputar selamanya. Dan wajahmu sudah lembab sebelum terkena air hujan. Air matamu akan tetap mengalir. Di antara semua pakaian yang kau kemas, emosimu tidak berada di dalam tas konyol itu. Tas itu kosong. Semuanya kau tinggal di kamar terkunci janji. Sekarang kau mau ke mana? Tak ada tempat untuk kau bersandar di luar sana. Bukalah perlahan lipatan pakaianmu. Dan kembali tidur.