Perjalanan Ojek Dari Jakarta Menuju Edinburgh
Hujan kembali menampakkan dirinya setelah beberapa purnama tidak bertegur sapa dengan warga kota Jakarta. Sebagai salah satu dari warga itu, aku tidak menyiapkan perkakas untuk melawan hujan. Hanya jaket tipis dan lagu-lagu yang cocok jika disandingkan dengan suara hujan. Akhir-akhir ini Jakarta menghembuskan angin yang dingin dengan frekuensi yang cukup sering kurasakan. Apakah ini yang dirasakan oleh orang-orang di Eropa sana ketika musim gugur?.
Suatu pagi aku bersiap untuk berangkat ke Sekolah. Suasana saat itu sangat dingin. Cahaya matahari datang terlambat. Aku mengintip dari balkon untuk melihat langit, dan benar saja, ternyata diluar sedang gerimis lembut. Aku dengan sengaja tidak memberi tahu mama karena beliau pasti akan membicarakan ke-khawatir-annya berkali-kali. Pada pagi buta, aku lebih memilih untuk semua orang yang berada di radius 5 Km dariku untuk diam tanpa sepatah katapun. Demi kewarasan pribadi.
Perjalanan menuju sekolah sebenarnya cukup merepotkan, karena aku harus melawan air yang tidak bisa kukendalikan, hanya bisa kuhindari. Aku memakai jaket tipis bertudung, yang biasa dipakai oleh orang-orang yang berolahraga, berwarna abu-abu. Lalu aku memakai helm yang diberikan oleh supir ojek. Earphone wireless sudah siap di telingaku, walaupun cukup berbahaya untuk memakainya disaat hujan seperti ini.
Jalanan tidak sepi untuk keadaan hujan, namun juga tidak ramai. Aspal yang sudah dipenuhi air membuat debu enggan untuk bergerak, udara yang dingin seakan memelukku dengan kasar, daun-daun basah yang tidak kuat berpegangan dengan tangkainya. Pagi itu cahaya matahari masih malu untuk menyapaku dan memilih untuk bersembunyi dibalik awan mendung. Aku meromantisasi kota Jakarta dengan membayangkan gedung-gedung yang kulewati merupakan jalanan Edinburgh dengan arsitektur gothic dari abad lampau. Inilah caraku bertahan hidup.
Aku menganggap diriku sangatlah rajin. Karena walaupun hujan, tetapi aku tetap memilih untuk ke Sekolah, padahal itu adalah hal normal yang memang seharusnya dilakukan. Mungkin karena sekarang aku sudah naik kelas dengan pelajaran yang sesuai dengan minatku sehingga aku menjadi semangat untuk belajar. Seharusnya hal seperti ini diterapkan semenjak aku duduk di Sekolah Menengah Pertama. Posisi tempat dudukku berada tepat dibawah pendingin ruangan. Kombinasi antara hujan, angin, dan pendingin ruangan membuatku merasa seperti sebuah Es krim.
Aku anggap hal-hal seperti ini merupakan latihanku untuk menetap di Edinburgh nanti. Disaat aku tidak bergantung dengan siapapun. Ketika aku berdiri sendiri dengan pilihan-pilihan yang kupilih tanpa harus memikirkan perasaan orang lain, dan perkataan orang lain. Mungkin suatu hari di masa depan aku sudah berada di Edinburgh dengan segelas kopi Vanilla Latte hangat, duduk disebelah kaca yang menampakkan pemandangan kota Edinburgh yang dihiasi oleh pohon dengan daun berwarna jingga.
Komentar
Posting Komentar