Konsep Kematian
Pengalamanku terhadap kematian hanyalah melalui film-film yang ku tonton. Dan tak jarang membuatku menangis tentu saja, aku adalah orang yang sensitif dan menaruh perasaan pada benda mati. Sampai pada hari dimana aku mengalami kejadian itu di dunia nyata. Hal yang biasanya kulihat melalui layar, sekarang berada persis di depan mataku.
Hari itu aku mendapatkan kabar duka yang tak jauh berasal dari rumahku sendiri. Tempat dimana aku dibesarkan semenjak lahir. Aku sebenarnya sudah mengetahui bahwa 'ini' akan terjadi, namun tetap saja, kematian adalah sesuatu yang dapat mengganggu kestabilan jiwa seseorang. Jujur saat itu aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Kesedihan sudah pasti. Ini adalah pertama kalinya aku mengalami kematian dari keluarga terdekatku.
Saat aku sampai, tenda sudah didirikan, orang-orang mulai berkumpul, dan disitu aku melihat papa yang sedang melayani tamu-tamu kelabu. Tubuhnya tampak lebih kurus dari pada biasanya, kami memang jarang bertemu pada hari-hari terakhir almarhum. Aku menghampiri papa, wajahnya tidak begitu terlihat sedih, papa memang tidak suka menunjukan sisi emosionalnya. Aku bagaikan anak kucing yang hilang berdiri di sebelahnya, karena aku takut untuk masuk kedalam rumah dan melihat tubuh yang hanya tersisa sejarah. Tapi aku mau sampai kapan memalu-malukan diri sendiri?. Akhirnya dengan langkah yang ragu, aku memasuki pagar rumah itu. Melepas sepatu.
Disitu. Seakan-akan sebuah es menghantam tubuhku dan membeku. Aku tak mau melihat tubuh almarhum terlalu lama. Aku mau mengingatnya hidup. Ternyata keluarga tante-ku juga berada di samping almarhum. Aku menyapa mereka satu-per-satu, lalu ketika aku menyapa tante-ku, tak sadar aku memeluknya secara otomatis. Aku mencari sesuatu untuk mencairkan es yang menyembur diriku. Aku hanya memeluknya beberapa detik saja. Aku pun takut menunjukan sisi emosionalku. Aku memulai kembali langkah kecilku mengarah ke eyang mama, awalnya wajah beliau terlihat biasa saja tanpa air mata, namun ketika beliau berkata
"Alin... (Ini) Eyang lin. Eyang sudah ga ada...".
Bodoh sekali pecundang yang berada di sampingnya ini langsung menjauh, aku takut terlihat menangis. Seharusnya aku terus memeluknya.
Dalam jarak itu, aku melihat wajah almarhum, dan mataku melihat sebuah dongeng menjadi kenyataan, almarhum terlihat tersenyum. Keriput pada wajahnya berubah bagaikan kulit bayi. Indah sekali wahai kematianmu. Bak anak yang digendong Ibunya untuk tidur.
Aku tak bisa fokus belajar pada minggu ulangan terakhirku karena kematiannya. Kau biarkan pikiranku kosong beberapa detik saja dan kau akan melihatku berlinang air mata. Kamar mandi adalah satu-satunya tempat aku bisa nangis dengan bebas. Aku merasa sangat jahat karena aku seakan-akan lebih mementingkan akademik dari pada almarhum. Sungguh, aku menyayanginya, aku hanya tidak tahu bagaimana cara menyampaikan sebuah perasaan.
Hanya satu orang yang meninggalkan rumah ini, namun rasanya beliau mengajak seratus orang untuk ikut bersamanya.
Dalam waktu hilangku, aku selalu berpikir mengenai konsep dari kematian. Bagaimana bisa pada hari sebelumnya kau mengenal orang itu benar-benar hidup, lalu keesokan harinya kau mengenalnya tak hidup sama sekali. Tak berkata, tak bergerak, tak bernafas, tak berpikir. Mati semati-matinya. Apa maksudmu dari 'ia benar-benar hilang'?. Aku jelas-jelas tertawa bersamanya.. aku hidup bersamanya. Dan sekarang ia tak berada sama sekali di permukaan ini?.
Komentar
Posting Komentar