Menurutku Kita Tidak Akan Sampai Bulan Desember
Menurutku Kita Tidak Akan Sampai Bulan Desember.
Seorang telah mencapai masa dimana mereka kembali menjadi seorang bayi. Bak kembali diajarkan cara berjalan oleh sang Ibu tujuh windu yang lalu. Kali ini tangan itu dipegang kembali oleh sang anak. Langkah demi langkah sekarang berjalan berdasarkan memori.
Sang anak kembali terbawa ke masa lalu ketika tangan yang sama ia pegang puluhan tahun yang lalu juga mengajarnya cara untuk berjalan berdasarkan seorang ayah.
Seorang merebahkan tubuhnya di atas kasur. Satu kata muncul dalam pikiran semua orang. Tidak. Kita tidak mau menyebutkannya. Bagaikan kata keramat yang menolak untuk berjalan diatas lidah. Kata yang akan terjadi pada setiap umat manusia pasti akan datang. Kita tidak bisa menundanya bahkan menolaknya. Namun bagi mereka yang hidup selamanya, kata ini sangat amat dinanti.
Bagaimana rasanya? Saat itu terjadi?
Aku takut. Aku takut hal tersebut merubah segalanya yang ada di hidupku. Aku benci perubahan. Bagaimana jika hal tersebut dapat merubah sifat orang-orang tersayangku? Aku takut.
Seumur hidupku aku belum pernah mengalaminya. Aku tidak hidup selamanya. Begitupun seorang yang tubuhnya tergeletak di atas kasur.
Reaksi apa yang harus kuberikan? Aku tak mau melihat kerabatku bersedih-sedih. Pun kalau itu terjadi, sampai kapan kesedihan itu berakhir?.
Aku harap tidak ada yang berubah. Aku yakin seorang juga tidak mau itu terjadi.
Bagaimana jika rumah ini berubah menjadi hitam putih? Walaupun sebelumnya memang sudah secara perlahan menjadi hitam putih. Ini tidak akan menjadi selamanya kan?
Perlukah ku menyewa seorang badut dengan balon setiap Minggu? Akan ku persiapkan segala lelucon.
Tapi tolong, jangan berubah. Jangan terus membiru.
Karena, Menurutku Kita Tidak Akan Sampai Esok Hari.
(15/06/2025)
(18 Juni 1945-16 Juni 2025)
Komentar
Posting Komentar