Apa Yang Terjadi dengan Gambar Itu?
Aku mengambil buku gambar dan pensilku. Kuraut ujung pensilku agar lebih nyaman ketika menggambar. Kopi sudah kubuat, takaran susunya lebih banyak dibanding kopinya. Sempat sedikit bingung tentang bentuk apa yang akan aku perintahkan pensil ini. Lalu aku berpikir "Mungkin kita bisa mulai dari mata? Namun agar sedikit berbeda, kita tambahkan air mata". Ide bagus, pikirku. Kugambar perlahan tapi pasti. Mata yang dilengkapi air mata yang menggenang sudah jadi, sekarang kita buat hidung. Hidungnya kecil tidak begitu mancung. Kugerakan lagi pensilku kebawah, kugambar bibir yang tebal tapi pendek. Agar lebih realistis kugambar kerutan di wajahnya. Garis kerutan ketika tersenyum dan pada bagian kantung mata. Rambutnya sedikit lurus dengan poni yang berada persis di atas alisnya yang tipis dan panjang.
Lalu apa?. Seperti ada yang kurang dengan gambar ini. Oh, telinganya terlalu naik. Tapi setelah kuperbaiki, perasaanku tidak berubah terhadap gambar wanita ini. Terdapat kebingungan yang terjadi diantara otak dan hati. Apakah rambutnya? Tidak. Apakah bibirnya? Matanya? Tidak. Apakah alisnya? Mungkin. Kutatap wanita itu berharap ia menjawab kekurangan yang ada di wajahnya. Berpikir seperti ini tidak akan membuat gambarku menjadi bagus. Kutulis tanggal hari ini, hari dimana aku membuat gambar aneh ini, dan kututup buku gambarku. Sepertinya pertanyaan tadi harusnya ditanyakan kepada yang menggambar wanita ini. "Kenapa gambar itu bisa kurang? Apa yang terjadi?". Aku bertanya pada diriku.
Apa yang terjadi?. Satu minggu ini jadwalku lumayan padat. Ada foto MPK yang harus kuhadiri 2 hari berturut-turut, lalu melaksanakan sosialisasi Proker MPK, menyambut siswa di pagi buta, tidak angin-tidak ada hujan sosialisasi prokerku gagal karena guru, pada sore hari aku harus mengikuti ekskul teater, tapi aku tidak mendapat peran yang kuinginkan di teater yang membuatku mendapatkan peran menjadi 'zombie' dimana aku sangat amat benci sekali sampai aku menangis dalam perjalanan pulang tapi untungnya sekarang aku sudah sedikit berdamai, oh dan tak lupa.. aku memberanikan diri ke bioskop sendiri. "Lalu apa yang terjadi?".
Aku adalah seseorang yang selalu mengerjakan tugas apapun yang diberikan kepadaku. Terutama dari organisasi dan guru. Karena aku tidak ingin mengecewakan siapapun, ibaratnya kalau ini di kantor, mungkin aku adalah salah satu karyawan yang dapat dihandalkan. Namun sepatuh-patuhnya aku terhadap ini semua, ada satu hal yang akan membuatku rela meninggalkan tugasku begitu saja, masa bodo dengan mengecewakan 'atasan'ku . Aku rela membatalkan semua perjanjianku demi satu pesan yang dikirim oleh nya. Dua hari berturut-turut aku dipermalukan. Aku merasa seperti orang bodoh. Kamu lebih mementingkan kesibukanmu dan aku lebih mementingkan pertemuan khayalan yang ada dipikiran bodohku. Aku terus menghubungi menanyakan ketersediaan waktumu yang tak pernah tersedia. Dua kali aku menjalani hari yang gagal.
Seharusnya aku berada di tempat perjanjian kami, bukan melakukan adegan 'zombie' yang memalukan keluargaku. Aku melihat keluar dari jendela kelas, berpikir sungguh bahwa aku akan pergi sekarang juga jika kamu mengubah pikiranmu. But you've never changed your mind. Aku merasa seperti seorang pengemis, yang meminta-minta waktumu. Padahal kalau kita bertemu-pun sepertinya tidak banyak yang terjadi.... sepertinya. Aku hanya ingin bertemu. Sekali saja, lalu aku pergi.
Komentar
Posting Komentar