Emosi Melanda Jiwa Yang Kosong
Hari ini (10 April 2025) aku bangun pukul 04.45 dini hari demi sekolah. Jika tidak ada sekolah, sudah kupastikan, pukul 13 siang adalah waktu yang cocok untuk memenuhi rasa kantuk ku. Tidak ada yang menarik pagi itu. Aku berpisah dengan kasur ku pukul 05.10 dengan sangat amat terpaksa. Lalu solat, memakai seragam, merias wajah ku se-sederhana mungkin, menyisir rambut, sarapan dengan roti yang ditaburi serpihan cokelat, lalu berangkat dari rumah menggunakan ojek. Suasana lalu lintas pagi itu juga terlihat seperti biasa, tidak ada yang menarik. Klakson berbunyi, pemotor tidak mau kalah, jalanan yang cukup sempit untuk waktu dimana orang-orang berangkat untuk memulai kegiatannya.
Hari ini adalah hari kedua kita masuk sekolah setelah libur panjang, yaitu libur Idul Fitri. Suasana sekolah cukup sepi. Kelas 12 sudah tidak menjalani aktivitas belajar karena mereka akan fokus untuk tes masuk perguruan tinggi. Ada beberapa siswa yang masih bertemu kangen dengan keluarga tersayang nya di kampung halaman, dan ada juga siswa yang sengaja tidak masuk karena malas. Mungkin aku termasuk dari golongan tersebut jika aku memprioritaskan dinginnya kasur ku.
Teman sebangku ku tidak hadir karena sakit. Sehingga membuat ku mempunyai dua meja dan dua bangku untuk hari itu. Tapi aku tidak duduk di tempat seperti biasa. Aku menghampiri meja teman terdekat ku, di belakang, agar aku bisa menjalin pertemanan. Aku takut kehilangan momen. Namun, entah kenapa, pagi itu aku sangat lelah secara mental untuk sekedar berbicara dan berinteraksi. Rasanya seperti jiwaku sedang tertidur tetapi tubuhku beraktivitas seakan-akan dikendalikan oleh seorang dalang. Aku terlalu malas untuk tersenyum, bahkan aku harus menyembunyikan ketawa ku dengan tangan ketika pipiku sudah mulai terasa kaku.
Tidak seperti hari sebelumnya, dimana kami pulang 2 jam lebih awal, hari ini kami pulang seperti biasa. Tak hanya itu, aku harus menghadiri rapat ekskul yang ternyata tidak begitu penting. Yang membuatku lebih kesal adalah aku harus menunggu sekitar 45 menit untuk rapat itu dimulai dan ketika rapat itu akhirnya dimulai, mereka hanya membahas hal-hal yang aku sudah paham. Selebihnya mereka mengobrol dan membuang-buang waktuku. Dikarenakan membuang-buang waktu adalah salah satu hal yang paling kubenci di dunia ini, ketika menurut ku sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas, aku meminta untuk pulang lebih awal. Toh, langit sudah mulai gelap dan aku yakin pasti hujan akan turun beberapa waktu lagi. Baterai telefon genggam ku tak akan bertambah lebih banyak.
Aku pulang dengan kondisi langit seakan-akan monster raksasa akan hadir di kota Jakarta. Untungnya aku membawa jaket yang melindungi kepala dan rambutku, yang baru saja ku-cuci kemarin malam, dari air hujan yang mulai turun. Ditengah lampu merah yang membuat kemacetan cukup panjang dan padat, ojek yang kutumpangi melawan arah agar bisa berada dibagian paling depan dari kemacetan itu. Lampu baru saja berubah menjadi hijau ketika mobil berwarna putih menyentuh kaki kiri ku dan sedikit bagian dari motor. Terlalu kasar jika kubilang mobil itu menabrak ku. Supir ojek, yang melihat motornya terkena juga oleh mobil itu, teriak kesal kepada supir mobil putih sebab motornya hampir saja rusak. Bukan untuk kaki ku tentu saja.
Walaupun sepertinya ia menanyakan keadaan kaki ku, namun musik yang berada di penyuara telinga sedang memutar lagu favorit-ku sehingga aku tidak begitu menghiraukannya.
Sampai di rumah, kuucapkan Terima Kasih kepada supir lalu menaruh sepatu ku di rak berwarna hijau toska yang berada di dekat pagar. Samar-samar, dibalik musik yang kudengar, terdapat suara nenek ku yang tidak biasa. Suara beliau lebih keras dari biasanya dan seperti ada bola yang bergelinding bolak-balik disekitar tenggorokannya. Nada suaranya tidak stabil seperti berusaha bernafas sembari berbicara dengan tenggorokan yang berisikan bola, pikirku.
Oh. Beliau menangis. Aku melihat pemandangan itu diikuti dengan tante ku yang baru saja keluar dari pintu rumah, dengan wajahnya yang cocok dengan cuaca kota Jakarta sore itu. Murung dengan bola mata yang terkunci dengan lantai.
Aku tidak menyapa tante ku yang jelas sekali berpas-pasan dengan ku. Karena aku tahu, pasti ialah salah satu penyebab dari tangisan nenek-ku. Kubiarkan ia menyendiri dengan pikirannya. Aku yakin itulah yang diinginkan orang-orang yang pikirannya sedang berada diambang kewarasan. Termasuk aku. Aku masuk kedalam rumah, disambut oleh kakek dan nenek. Kakek tidak terlihat menangis seperti nenek. Cenderung tidak peduli dengan situasi aneh yang terjadi. Tapi wajah nenek kala itu sangat amat terlihat bahwa ia menangis. Karena aku hanya-lah anak kecil di mata mereka yang tak seharusnya terlibat apapun dengan situasi tersebut, aku hanya tersenyum dengan jaket ku yang sekarang sudah berubah menjadi tudung. Dengan harapan mereka terhibur dengan penampilan ku yang menyerupai Barongsai.
Perutku sudah sangat lapar, namun aku takut untuk makan karena metabolisme tubuhku yang sangat tidak bagus. Membuat perutku terlihat buncit. Selain itu, aku juga sedang mengusahakan agar pada Idul Fitri tahun depan seseorang mengatakan bahwa berat badanku menurun. Aku tak pernah mendapatkan pujian seperti itu. Ketika sore menuju malam, akhirnya aku tidak harus memalsukan senyum dan tawa ku demi menjalin pertemanan. Rasanya sangat lega dan bebas. Aku bisa diam hingga 2 jam dan tak akan protes. Saat kita hendak solat Isya berjamaah, nenekku memamerkan rambut barunya yang kini dipotong pendek. Sebelumnya rambut beliau sangat panjang seperti gadis Victorian. Sekarang dngan rambut pendek baru, beliau terlihat lebih muda.
Sekitar 5 menit sebelum aku memulai menulis ini, aku sedang menonton video YouTube ketika ada suara yang tak biasa. Suara seperti kucing gila yang diletakkan di dalam kardus, dengan 'ngeongan' yang sangat melengking. Kubiarkan suara itu berputar karena kupikir memang kucing, sampai suara itu berubah menjadi suara remaja perempuan yang familiar dengan ku. Sampai ku harus menghentikan sejenak tontonanku agar dapat memastikan suara apa itu. Tak heran. Ternyata itu sepupuku yang berteriak dengan tangisannya sambil memukul-mukul dinding dan benda-benda lain di sekitarnya. Terdengar suara ibunya yang mulai mengimbangi teriakan anaknya, yang semakin lama semakin terdengar lebih keras dari yang sebelumnya. Mereka seperti sedang berkompetisi akan siapa yang dapat berteriak lebih kencang antara satu sama lain. Situasi mengerikan ini sudah terjadi sebelumnya beberapa kali, sehingga membuat kami tidak begitu kaget tetapi selalu khawatir. Anak rebel manja seperti itu dipadukan dengan orang tua yang menuntut sebuah kesempurnaan fana dari anaknya. Hal ini selalu menghasilkan situasi yang tidak menyenangkan. Bahkan sepupuku sendiri yang berkata agar orang tuanya segera bercerai saja.
Aku tidak tahu ingin menyimpulkan hari ini seperti apa, hal terbaik yang terjadi hari ini adalah aku menonton film Romance-Comedy yang sudah lama kunantikan, dan.. ya.. film yang seru. Aku tidak tahu mengapa akhir-akhir ini suasana di rumah sedikit berbeda, seperti emosi melanda satu persatu penghuni yang ada disini. Ingin sekali aku menceritakan secara spesifik bagaimana 'emosi' mengendalikan semua orang yang berada di rumah ini. Namun aku terlalu malas untuk mengungkit-ungkit rasa kesal yang sudah kudamaikan dengan diriku. Kecuali tentang kejadian tidak mengenakan yang terjadi antara aku dan ayahku beberapa hari yang lalu.
Yaitu ketika aku tak sengaja menangis dihadapan ayahku karena beliau mengatakan hal yang sangat menyakitkan bagi kaum perempuan. Sayang sekali, aku sudah melupakan apa yang beliau katakan demi kewarasan pribadi. Sebagai pembela perempuan baik hati secara mati-matian, aku merasa sangat sedih, mengingat ini adalah ayahku sendiri yang mengatakannya. Aku ingat ketika beliau mengatakan pendapat sampahnya, aku hanya berdiri diam tak bisa melakukan apa-apa. Seakan-akan sopan santun menahan diriku untuk tidak mengatakan sepatah kata apapun atau bahkan melempar barang ke arah wajahnya. Namun yang paling kuherankan, kenapa saat itu aku tak bisa menahan air mata ku? itu tak seperti biasanya.
Menangis dihadapan ayahku akan menjadi hal terakhir yang kulakukan sebelum aku mati. Karena ayah tidak suka melihat atau merasakan sesuatu yang berbau melankolis dan melibatkan emosi. Sampai aku harus menjadikan luka bakar yang sudah berada di kaki ku selama 2 bulan, menjadi lebam akibat jatuh dari tangga sebagai alasan mengapa aku menangis, selain karena ideologi sampah yang baru saja beliau utarakan.
Bayangkan jika aku mengatakan bahwa aku menangis karena ayahku mengatakan pendapat yang menyakitkan hatiku sebagai seorang perempuan. Pasti yang kuterima adalah ejekan serta tawaan dari seluruh keluarga ku. Mereka selalu menganggapku terlalu melibatkan perasaan bahkan pada hal-hal kecil. Padahal aku hanya seseorang yang meromantisasikan kehidupan dan memasuki pikiran-pikiran orang lain untuk mengetahui sudut pandang suatu kondisi.
Hasil yang kudapat dengan berbohong saat itu hanya obat luka lebam.
Dan ejekan.
Komentar
Posting Komentar