Hari Esok, Tak Ada Yang Tahu
Akhir-akhir ini rasanya hidup ku terasa sangat hambar. Pikiranku sehari-hari hanya berinteraksi dengan jam yang ada di telefon genggam, dinding, dan tanganku. Semuanya berjalan dengan biasa saja, tak ada yang menarik maupun yang buruk. Dan sudah seharusnya aku berterimakasih atas hal itu, karena dulu, hidupku selalu berada di ambang kegilaan. Seharusnya aku bersyukur karena sekarang hidupku baik-baik saja. Tidak nyaris masuk ke dalam rumah sakit jiwa. Sepertinya aku lahir untuk tantangan. Aku butuh tantangan baru. Sudah 2 bulan aku berumur 16 tahun dan belum terjadi apa-apa dalam hidupku seperti kebanyakan karakter-karakter di dalam film, yang dimana cerita mereka mulai pada umur 16 tahun.
Sebenarnya faktor eksternal sudah mendorong untuk memulai cerita hidupku. Percaya atau tidak, ada beberapa lelaki yang menyampaikan perasaan romantisnya terhadapku. Aku tidak bisa, aku sangat tabu terhadap hal ini. Aku menjauhkan mereka dengan cara paling canggung yang akan kalian bayangkan. Aku tidak pernah menjalin hubungan romantis yang serius seumur hidupku, sehingga ketika itu terjadi, aku bingung harus bagaimana. Lucunya, aku sebenernya menginginkan sesuatu yang romantis terjadi kepadaku, namun aku belum siap. Aku tak mau membagi waktuku dengan buku, film, menggambar, melukis. Aku tak bisa membayangkan diriku meninggalkan atau meluangkan waktuku untuk bersama seorang lawan jenis.
Kecuali satu lelaki yang kutemui di Sekolah Menengah Pertama.
Aku menanyakan kehadirannya untuk mengajar Pramuka di hari Senin esok sesuai pulang sekolah. Sekolah kami sekarang sudah berbeda tentunya. Dan dia berkata jika Tuhan mengizinkan, dia akan datang. Secara tak langsung aku mengajaknya untuk bertemu. Berdua saja. Di sekolah. Di tempat awal kita bertemu. Oh... Aku sangat gila melakukan ini. Ini bukan sesuatu yang biasanya aku lakukan. Tapi tetap kulakukan. Kenapa?. Apakah aku sebegitu putus asanya akan kehambaran hidupku saat ini, sehingga aku butuh sesuatu yang setidaknya mewarnai ku Minggu ini?.
Esok masih menjadi tanda tanya akan kehadirannya. Tanda tanya yang lebih berarti dibandingkan tanda tanya di buku matematikaku. Aku deg-degan sekali akan besok. Bagaimana jika ia tidak bisa hadir? Bagaimana jika besok tak ada latihan? Bagaimana jika besok AKU yang tidak bisa hadir?. Bisakah Tuhan mengizinkan saja kami untuk bertemu esok sore hari?. Apa yang akan terjadi jika dia bilang bahwa dia tidak bisa hadir? Karena satu pesan darinya akan membungkam ku selamanya. Besok seperti hari penentuan. Hari pengadilan. Besok akan ada moment yang menentukan perasaanku untuk waktu seterusnya. Kekuatan yang ia punya terhadapku sangatlah kuat. Aku rela meluangkan segala penghambatku demi sore nanti.
Aku menulis ini sebelum hari esok. Sebelum hari penentuan. Mungkin saat aku mengirim tulisan ini, aku sudah mengetahui apa yang terjadi di hari Senin. Aku harap diriku di masa depan senang dengan apapun yang terjadi di hari Senin. Aku harap diriku bertemu kembali dengan dia. Sungguh, sepertinya... Bertemu dengannya akan membuat hidupku sedikit bermakna ditengah kehambaran yang terjadi.
Komentar
Posting Komentar